Ada sebuah titik jenuh di mana otak kita mulai menciptakan teori konspirasi paling narsis sedunia; bahwa rasa marah dan sedih yang kita alami hari ini bukan sekedar fluktuasi kimiawi, melainkan plottwist yang sengaja ditulis oleh semesta jika merasa dunia sedang "mengerjain". Cerita lampu merah yang lama, kopi yang tumpah, dan perasaan kesepian yang tiba-tiba datang seperti tamu tak diundang, semuanya terasa seperti adegan yang sudah diatur "ah mereka pasti sedang menonton reaksiku" pikir kalian sambil menahan tangis di tengah keramaian yang terasa palsu.
Inilah persimpangan yang berbahaya anata Solipsisme (merasa hanya diri sendiri yang nyata) dan kerapuhan emosional. Saat kita merasa semua orang adalah aktor dalam peran mereka masing-masing, rasa marah kita menjadi sangat spesifik. Kita tidak lagi marah pada keadaan, kita marah pada "kru film" di balik layar yang memberikan kita hari yang buruk. Kita merasa sangat sendiri karena, yah, bagaimana bisa kita tidak merasa sendiri jika kita percaya semua orng di sekitat kita hanya mengikuti naskah? Temang yang menghibur terasa seperti membaca dialog, dan musuh yang menyerah terasa sedang menjalankan tugas antoagonisnya. Kita terjebak dlaam kotak kaca, menjadi pusat perhatian dari penonton imajiner yang tidak pernah memberikan tepuk tangan.
Namun dibalik kegilaan "The Truman Show" ini, sebenarnya ada keinginan bawah sadar untuk merasa paling penting. Measa "seluruh dunia melawan saya" jauh lebih keren daripada mengakui bahwa "saya hanya manusia biasa yang sedang kelelahan dan butuh pelukan". Kita memilih natasi konspirasi besar karena mengakui bahwa kita rapuh dan sendiri di dunia yang acak dan tidak peduli itu jauh lebih menakutkan. Jadi kita harus bermain peran. Kita marah-marah untuk mengetes apakah ada aktor yang akan break character, lalu kit atenggelam dalam kesedihan yang puitis untuk melihat apakah sutradara akan mengganti latar belakang musiknya menjadi lebih ceria. Spoiler; Musiknya tetap sama, dan kita tetap harus mencuci piring sendiri.
The Truman Show: Edisi Spesial "Mental BreakDance" yang tak terduga.
Mungkin cara terbaik untuk keluar dari drama ini adalah dengan menyadari bahwa jika memang ini sebuah pertunjukan, maka ratingnya sedang anjlok karena kita terlalu sering mengulang adegan "meratapi nasib". Jika kalian merasa semua orng sedang bersekongkol, cobalah sesekali berhenti mengikuti naskah kalian sendiri. Berhentilah menjadi martir yang tragis dan cobalah menjadi penonton bagi diri sendiri. Lagipula, jika dunia ini memang panggung sandiwara, bukankah lucu sekali melihat betapa seriusnya kita memerankah tokoh yang sedang marah pada hal-hal yang tidak ada atu jangan-jangan, kalian memang terlalu menikmati peran ini arena menjadi "korban konspirasi semesta" terdengar jauh lebih heroik daripada sekadar menjadi orang yang butuh tidur siang ?