Tanpa judul


Jika melihat seseorang menabrakan diri ke tembok secara sengaja lalu terjatuh, kemudian bangkit sendiri sambil menghela nafas panjang dan berkata " ya, mungkin tuhan belum mengijinkan saya sampai ke tempat tujuan" Aneh kan ? ya analogi aneh dari kenyataan yang sering terjadi. Ada kepuasan aneh yang didapat sebagian orang ketika mereka melakukan sabotase atas usaha mereka sendiri. Bukan mengevaluasi mengapa harus menabrak tembok, alih-alih menanyakan alasan melakukan kekonyolan tadi, terlintas akan rasa penasaran tentang kewarasan. Keajaiban tidak berhenti sampai di sini, mereka justru mencari tahu kutipan bijak untuk memvalidasi kehancuran ini adalah takdir yang tidak terelakan, bukan akibat dari keputusan bodoh yang mereka ambil sesadar-sadarnya.

Ini adalah bentuk tertinggi dari mekanisme pertahanan diri; mengubah incompetence (ketidak mampuan) menjadi piety (kesalehan). Jujur saja, sejak awal mereka tahu bahwa kebijakan yang diambil bertentangan dengan logika proses kerja, seperti mencoba memasak nasi goreng menggunakan mesin cuci. Namun, saat mesinnya meledak dan dapurnya terbakar, kalimat sakti "mungkin ini bukan rejeki kita" mendadak keluar sebagai pemadam api akal sehat. Semakin ajaib lagi, narasi "berusaha jujur tapi gagal" sering kali diseret-seret sebagai tameng terakhir. Seolah-olah, kegagalan itu terjadi karena mereka terlalu suci untuk dunia yang kejam ini, padahal kenyataannya mereka hanya terlalu malas untuk berpikir logis atau terlalu angkuh untuk mengakui bahwa rencana mereka memang berantakan semenjak di atas kertas.

Yang membuat drama ini semakin melelahkan adalah durasi "masa berduka" yang disengaja diperpanjang. Di masa depan, kisah tragis ini akan diputar ulang seperti lagu rusak disetiap pertemuan, di mana si pelaku akan memposisikan dirinya sebagai satu-satunya korban paling teraniaya di muka bumi. Mereka akan menceritakan bagaimana "dunia ini tidak berpihak kepada orang jujur", melupakan detil kecil bahwa kegagalan itu berakar dari keputusan mereka sendiri yang menabrak aturan main. Ini bukan lagi soal mencari solusi, ini soal memelihara luka agar mereka punya alasan untuk tidak pernah mencoba lagi dengan benar. Sabotase diri adalah cara termudah untuk tetap berada si zona nyaman tanpa harus merasa bersalah karena tidak berprestasi.

Ok, sangat praktis memang jika kita bisa melimpahkan semua kesalahan manajemen kita kepada rencana besar alam semesta. itu jauh lebih murah daripada harus membayar konsultan atau yang lebih sulit lafi, bercermin dan mengakui bahwa masalahnya ada pada orang yang memegang kendali. Tapi mau sampai kapan kita mau merayakan kegagalan yang kita ciptakan sendiri sebagai bentuk "ujian"? Mungkin rencana Tuhan yang sebenarnya adalah menunggu kita untuk berhenti bersikap konyol dan memang lebih menikmati peran sebagai korban yang tragis  ketimbang menjadi pemenang yang membosankan ?

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama