Kesehatan Mental Sebagai Gimmick- Saat Depresi Menjadi Strategi Marketing

Uploading: 1121464 of 1121464 bytes uploaded.

Pernahkah kalian merasa kalau penderitaan kalian saat ini terasa "kurang laku" karena tidak ada musik lo-fi melankolis yang mengiringinya? Kita hidup di era di mana kesehatan mental bukan lagi sekadar isu kesehatan, melainkan mata uang digital. Sangat menyedihkan melihat trauma masa kecil dikemas rapi dengan filter hitam-putih dan narasi puitis demi mendapatkan engagement dari orang asing yang bahkan tidak tahu nama belakangmu. Apakah kita benar-benar sedang membangun empati, atau kita hanya sedang melakukan kurasi konten agar terlihat "dalam" dan "terluka" di depan kamera sebelum lanjut makan nasi padang?

Trauma Jadi Cuan: Seni Mengemas Luka demi Algoritma

Dulu, pergi ke psikolog adalah rahasia dapur yang dijaga rapat-rapat. Sekarang? Belum juga duduk di kursi pasien, kita sudah sibuk mengambil foto estetis dari sudut ruang tunggu sambil menulis caption tentang "perjalanan penyembuhan" (healing journey). Fenomena ini menciptakan standar baru: kalau kalian tidak punya gangguan kecemasan atau minimal satu trauma masa kecil yang bisa dipamerkan, kalian dianggap membosankan dan tidak relevan. Perusahaan-perusahaan besar pun tidak mau kalah; mereka mendadak peduli pada kesehatan mental karyawan hanya saat bulan kampanye tertentu, membungkus eksploitasi kerja dengan voucher meditasi gratis yang durasinya bahkan tidak cukup untuk sekadar mengatur napas di tengah deadline yang mencekik.

Mental Health Awareness atau Kontes Penderitaan Paling Estetik?

Kita terjebak dalam kompetisi siapa yang paling menderita, di mana depresi bukan lagi musuh yang harus disembuhkan, melainkan strategi marketing untuk menarik simpati. Saat semua orang berlomba-lomba menunjukkan luka mereka di etalase media sosial, batas antara "mencari bantuan" dan "mencari validasi" menjadi sekabur pandangan mata saat bangun tidur setelah menangis semalaman. Kita lebih sibuk memilih filter yang tepat untuk mata sembab kita daripada benar-benar mencuci muka dan menghadapi realita. Pada akhirnya, kesehatan mental menjadi sekadar hashtag populer yang digunakan untuk menutupi kekosongan substansi di balik layar ponsel kita masing-masing.

Saat Depresi Menjadi Syarat Mutlak 'Personal Branding'

Lucu memang melihat bagaimana kita merasa sudah menjadi pahlawan kemanusiaan hanya dengan menekan tombol _repost_ pada kutipan motivasi yang ditulis oleh orang yang mungkin juga sedang mengalami burnout karena terlalu banyak membuat konten. Mungkin besok kita bisa mencoba sesuatu yang benar-benar radikal: merasa sedih tanpa perlu memberitahu seluruh dunia, atau lebih ekstrem lagi, mendengarkan teman yang curhat tanpa perlu berpikir bagaimana cara mengubah ceritanya menjadi sebuah thread yang viral. Tapi ya, apa gunanya sembuh kalau tidak ada satu orang pun yang memberikan like pada prosesnya, bukan?

Jualan Sedih 101: Cara Mengubah Air Mata Menjadi Insight Instagram

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama