MENELAN FILOSOFI KOPI HITAM PAHIT TANPA PERLU BANYAK GAYA

MENELAN FILOSOFI KOPI HITAM PAHIT TANPA PERLU BANYAK GAYA
Kenalin, saya ini segelas kopi hitam. Tolong, jangan pasang muka heran atau melontarkan pertanyaan klise seperti, “Kok kopinya dingin?” Ya, saya dulu panas, membara bahkan. Tapi kalian tahu sendiri apa yang terjadi: saya didiamkan. Ditinggal sibuk dengan ponsel atau obrolan kosong sampai uap saya habis ditelan AC. Jadi, kalau sekarang saya sedingin sikap mantanmu, jangan protes. Itu konsekuensi dari pengabaian yang kalian lakukan dengan sangat sadar.

Lucunya, setelah saya dingin, kalian mulai meracau soal rasa. "Duh, pahit banget!" Katanya. Saya hampir ingin tertawa kalau saja punya mulut. Bukankah kalian sendiri yang memesan kopi hitam pahit sejak awal? Jangan mendadak amnesia. Saya hanya menjalankan tugas sebagai kopi yang jujur pada identitasnya, sementara kalian mungkin sedang terjebak dalam krisis identitas di depan cangkir keramik ini. (baca: cangkir kaca hadiah kopi)

Ada tren menarik akhir-akhir ini: orang-orang mendadak ingin terlihat bijaksana dengan memesan kopi tanpa gula. Alasannya mulia sekali, demi hidup sehat dan umur panjang. Di depan kolega, kalian tampak seperti kurator kafein yang paham estetika rasa asli. Padahal, jauh di dalam lubuk hati—dan selera asal—lidah kalian sedang melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran menolak setiap tetes cairan hitam ini. Gengsi memang seringkali lebih pahit daripada kafein itu sendiri, bukan?

Baca juga; 

 

Berhentilah meributkan soal suhu atau rasa pahit yang sebenarnya kalian undang sendiri ke atas meja. Drama yang kalian mainkan ini sudah terlalu rumit. Membuat aturan-aturan kaku tentang cara menikmati hidup, tapi sebenarnya kalian sendiri yang tercekik oleh aturan itu. Kalian menciptakan panggung, memasang lampu sorot, lalu bingung sendiri saat harus berakting sebagai "pecinta kopi sejati" di depan publik yang sebenarnya juga tidak peduli-peduli amat.

Puncaknya adalah komedi putar yang sering saya saksikan dari balik kaca cangkir. Bilangnya kopi hitam less sugar demi diet, tapi begitu pelayan berbalik, tangan kalian gerak cepat menuangkan susu kental manis secara sembunyi-sembunyi. Benar-benar sebuah pengkhianatan yang rapi. Saya ini hanya kopi, bukan hakim di pengadilan agama, tapi melihat kemunafikan kecil itu membuat rasa pahit saya jadi terasa lebih "masuk akal" daripada logika kalian.

Photo by Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare on Unsplash  

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama