Lucu rasanya melihat bagaimana dia mendadak jadi benteng yang tak bisa ditembus saat kinerjanya dipertanyakan. Setiap kali realita menagih janji, dia akan mengeluarkan teori-teori ajaib untuk melindungi egonya. Bukannya memperbaiki diri, dia malah sibuk memoles alibi. Kamu sedang berhadapan dengan seseorang yang lebih mencintai citranya daripada kejujuran. Dia tidak sedang berdiskusi denganmu, dia sedang melakukan kampanye penyelamatan diri agar terlihat tetap suci di depan semua orang, meskipun pondasinya sudah keropos di mana-mana.
Puncak komedinya adalah ketika skenario "si paling tersakiti" mulai dimainkan. Saat semua rencana ambisiusnya berantakan, dia tidak akan berdiri dan mengaku salah, melainkan mencari pintu darurat bernama playing victim. Tiba-tiba saja, seluruh dunia bersekongkol menjatuhkannya, dan kamu—mitra yang sudah berdarah-darah membantunya—malah diposisikan sebagai antagonis yang kurang suportif. Ini adalah mekanisme pertahanan diri tingkat lanjut bagi mereka yang terlalu pengecut untuk menghadapi kegagalan sendiri.
Jujur saja, bagian paling melelahkan bukan saat dia berbohong, tapi saat kamu harus menahan rasa malu mewakili dia di depan orang lain. Kamu tahu persis apa yang dia bicarakan di podium atau ruang rapat itu tidak lebih dari sekadar fiksi belaka. Rasanya ingin sekali meminjamkan cermin ini kepadanya agar dia bisa melihat betapa konyolnya topeng kesempurnaan yang dia pakai. Namun, kamu sadar, orang yang sudah kecanduan pada fantasinya sendiri tidak akan pernah bisa melihat retakan pada wajahnya, tak peduli seberapa terang lampunya.
Jadi, berhentilah berekspektasi dia akan berubah menjadi rekan yang tulus. Menghadapi teman manipulatif seperti dia tidak perlu dibalas dengan drama yang sama; cukup beri dia panggung luas untuk terus berakting sampai audiensnya bosan sendiri. Tugasmu sekarang cuma satu: jaga jarak mental. Biarkan dia tenggelam dalam narasi hebatnya, sementara kamu berjalan menjauh dengan integritas yang masih utuh. Lagipula, untuk apa membuang energi demi seseorang yang bahkan tidak berani jujur pada bayangannya sendiri?
