BISNIS DI ATAS MUSIBAH DI ERA ATTENTION ECONOMY

BISNIS DI ATAS MUSIBAH DI ERA ATTENTION ECONOMY

Ketika internet terasa seperti pasar malam yang lampunya terlalu terang—semua orang datang, tapi tidak semua tahu kapan harus diam. Di satu sisi ada musibah, di sisi lain ada orang yang melihatnya seperti “traffic potensial”. Lucunya, keduanya muncul di layar yang sama.

Fenomena ini makin sering terlihat: postingan duka, komentar belasungkawa, lalu terselip satu akun yang entah bagaimana selalu berhasil menyelipkan link affiliate. Seolah empati itu bisa dikonversi jadi klik, dan kesedihan orang lain adalah funnel yang belum dioptimasi.

Di dunia attention economy, perhatian bukan lagi sesuatu yang diminta pelan-pelan. Ia direbut. Bahkan kalau perlu, ditumpangkan di atas momen paling rapuh orang lain. Karena algoritma tidak peduli konteks, yang penting engagement naik. Dan manusia belajar cepat: yang diam kalah, yang agresif menang.

Masalahnya mulai kabur ketika batas antara “strategi marketing” dan “tidak punya rasa” jadi tidak lagi tegas. Semua dibungkus dengan istilah “real-time marketing”, “momentum hijacking”, atau “leveraging viral context”. Padahal intinya sederhana: ada momen yang seharusnya tidak disentuh, tapi tetap disentuh karena angka lebih dulu bicara daripada etika.

Menjadi profesional di ruang digital ternyata tidak selalu ; tahu kapan harus promosi, tapi juga tahu kapan harus berhenti. Tapi kalimat itu terdengar tidak efisien di spreadsheet. Jadi sering kali yang dipilih adalah versi paling brutal: semua momen adalah peluang, termasuk momen yang orang lain butuh ruang untuk berduka.

Aneh memang, egh bukan aneh sih! Keterlaluan aja ketika empati mulai punya tombol “monetize”. Komentar yang harusnya jadi ruang manusiawi berubah jadi billboard kecil yang nyempil di sudut tragedi. Dan yang lebih ironis, ini sering tidak dianggap salah—hanya “kurang tepat timing”, seolah masalahnya cuma timing, bukan kesadaran. Faham ?

Pada titik ini, yang tersisa hanya satu pertanyaan yang jarang mau dijawab: kalau semua hal bisa dijadikan target, apa yang masih tersisa, yang benar-benar dianggap manusia?

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama