Seni Menjadi "Finisher": Karena Ide Tanpa Eksekusi Hanyalah Halusinasi
Mari kita jujur sejenak: memulai sesuatu itu gampang, tapi menyelesaikannya adalah olahraga ekstrem bagi mental kita. Kita semua pernah berada di fase di mana semangat membara di awal—beli sepatu lari baru, langganan kursus online, atau bikin draf tulisan—hanya untuk membiarkannya berdebu karena terdistraksi oleh video kucing di internet atau sekadar "kehilangan momentum". Menuntaskan apa yang dimulai bukan cuma soal manajemen waktu, tapi soal keras kepala melawan rasa bosan yang pasti datang saat euforia awal sudah menguap.
Di media sosial, kita sering melihat orang memamerkan _day 1_ atau proses persiapan yang estetis, tapi jarang ada yang memposting foto lelah saat membereskan sisa-sisa proyek yang membosankan di hari ke-30. Fenomena ini menciptakan ilusi bahwa kesuksesan adalah soal ide cemerlang, padahal kenyataannya, kesuksesan adalah tumpukan pekerjaan remeh yang berhasil diselesaikan tanpa penonton. Menjadi produktif bukan berarti punya seribu rencana, tapi tentang memiliki satu rencana yang benar-benar mencapai garis finis, meskipun hasilnya tidak sempurna.
Kenapa Kita Jago Memulai Tapi Payah Mengakhiri?
Dunia tidak kekurangan orang pintar dengan ide-ide revolusioner yang terbengkalai di dalam folder "Draft". Kita lebih butuh orang-orang yang berani bilang "selesai" pada pekerjaannya, sekecil apa pun itu, daripada mereka yang sibuk merencanakan sesuatu yang hebat tapi tidak pernah mewujud. Menyelesaikan sesuatu adalah bentuk penghargaan tertinggi pada waktu yang sudah kita buang secara cuma-cuma.
Filosofi Garis Finis: Menghargai Diri Sendiri Lewat Pekerjaan yang Tuntas
Jadi, proyek apa yang sekarang sedang di diamkan di pojokan draf atau di pojok ruangan? Selesaikan satu saja minggu ini, entah itu merakit rak buku yang sudah setengah jadi atau sekadar membalas email lama yang menghantui pikiran. 👌
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...