Kalian merasakan bulu kuduk berdiri hanya karena sebuah kalimat tanya sederhana yang terdiri dari lima kata? "Kapan skripsi kamu selesai nak ?" bukan sekadar pertanyaan administratif; itu adalah mantra pemanggil badai yang sanggup merubah ruang tamu yang hangat menjadi zona peperangan dalam sekejap. Apalagi jika pertanyaan itu datang sebagai mandat dari "Pihak Berwenang" alias istri kalian dengan instruksi tegas: "Tanyakan pada anakmu, kapan dia kelar urus skripsinya ?" Di titik itu, kalian bukan lagi seorang kepala keluarga, melainkan seorang utusan bunuhu diri yang dikirim ke garis depan tanpa rompi anti peluru.
Berhadapan dengan anak perempuan pertama soal skripsi adalah seni menghadapi bom waktu yang sensitif terhadap getaran suara. Kalian tahu persis bahwa satu salah intonasi saja akan membuat putri kesayangan kalian mengeluarkan jurus "Ayah engga ngerti tekanan mental aku" yang diikuti dengan bantingan pintu kamar yang getarannya terasa sampai ke fondasi rumah. Namun di belakang panggung kalian bisa merasakan napas napas sang istri lebih menyeramkan dari T-Rex yang memantau dengan mata menyipit, siap menerkam jika kalian terlihat terlalu lembek atau gagal mendapatkan jawaban pasti. Kalian terjebak dalam paradoks moral: ingin menjadi pahlawan bagi sang anak dengan memberikan kelonggaran tapi sadar bahwa kegagalan menjalankan instruksi sang istri berarti kalianlah yang akan di "eksekusi" saat makan malam nanti dengan menu lauk dingin dan keheningan yang mencekam.
Mungkin kalian akan mencoba teknik gerilya dengan menanyakan hal itu sambil menyodorkan makanan kesukannnya atau transferan emoney sebagai pelicin, nemun percayalah, detektor "tekanan terselubung" pada anak perempuan jauh lebih canggih daripada radar militer manapun. Pada akhirnya kalian hanya bisa berdiri mematung di ruang tamu, menatap pintu kamar yang tertutup rapat sambil sesekali melirik ke arah dapur di mana sang istri menunggu laporan intelejen dengan tangan bersedekap.
Jadi apakah kalian sudah menyiapkan skenario pelarian yang matang ?
atau kalian lebih memilih pasrah menjadi tumbal dari ambisi gelar sarjana yang tertunda ini ?