MEREKA YANG MEMILIH UNTUK PERGI

Kata-kata itu, meski datang dari rasa sakit, juga membawa sebuah refleksi tentang pengorbanan. Kadang, kita merasa seolah-olah kita adalah penopang dunia orang lain, selalu ada, selalu siap untuk membantu, menyelesaikan masalah, memberi solusi. Namun, ketika masalah datang bertubi-tubi, dan kita mencari mereka yang seharusnya ada untuk kita, kita justru mendapati ketidakpedulian. Orang-orang yang kita harapkan untuk bersama kita dalam perjuangan justru memilih untuk “cuci tangan” — menyalahkan keadaan, menyalahkan kita, atau bahkan lebih buruk lagi, mengabaikan kita. Mereka yang memilih untuk pergi, meninggalkan kita dengan beban yang semakin berat. 
Apa yang sebenarnya mereka cari? Kenapa kita, yang sudah berjuang begitu keras, malah dianggap pengecut ketika memilih untuk melepaskan diri dari situasi yang tidak lagi memberi makna?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

MENTAL BAJA BUKAN BERHENTI MENJADI MANUSIA

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

OBSESI MEMBUAT ORANG PATAH HATI TERSENYUM

MENGAKUI DOSA PADA KETULUSAN, BUTUH KEBERANIAN SEBESAR APA ?

Google Hack Search Engine

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit