Putaran Sunyi di Balik Obsesi Menjadi Berguna
Ada sesuatu yang sangat puitis sekaligus menyedihkan dari kipas angin yang sudah "pensiun" sejak 2019. Dia tidak benar-benar mati; dia hanya sedang melakukan protes diam-diam terhadap listrik yang terus menuntutnya untuk mendinginkan kepala-kepala yang panas. Di sudut ruangan, ia berdiri penuh debu, menjadi monumen kegagalan fungsional yang sempurna. Dunia melihatnya sebagai rongsokan, persis seperti cara masyarakat memandang manusia yang sudah tidak lagi menghasilkan angka di spreadsheet atau keringat di bursa kerja. Kalau tidak berputar, ya dibuang. Sederhana, brutal, dan sangat efisien.
Kita hidup di peradaban yang memuja putaran RPM tinggi. Jika Anda tidak berputar—alias tidak produktif, tidak viral, atau tidak punya side hustle—Anda dianggap sedang mengumpulkan debu seperti kipas angin malang ini. Standar sosial kita tidak mengenal istilah "istirahat panjang". Yang ada hanyalah "rusak" atau "malas". Ada tekanan tak kasat mata yang memaksa setiap orang untuk terus menghembuskan angin segar bagi orang lain, meski mesin di dalam dadanya sudah mengeluarkan bau sangit dan bunyi berdecit yang menyakitkan.
Namun, perhatikan ritus rahasianya setiap malam Jumat. Di saat dunia sedang sibuk dengan takhayul atau tidur lelap, si mesin tua ini mencoba satu-dua putaran pelan. Tanpa penonton, tanpa tepuk tangan. Ini bukan tentang upaya untuk kembali masuk ke pasar kerja atau membuktikan bahwa dia masih layak dijual di toko barang bekas. Ini adalah tentang martabat. Dalam satu putaran yang berat dan penuh hambatan itu, ada pernyataan tegas: "Aku masih ada, dan aku masih bisa, meski aku memilih untuk tidak melakukannya untuk kalian."
Refleksi sosialnya cukup menusuk bagi kita yang sedang mengalami burnout kronis. Berapa banyak dari kita yang berpura-pura mati secara sosial hanya karena kita muak menjadi komoditas? Kita sengaja mematikan tombol "ON" agar tidak lagi dieksploitasi oleh ekspektasi lingkungan. Kita menjadi manusia-kipas-angin yang memilih diam bukan karena benar-benar hancur, melainkan karena kita butuh ruang untuk tidak menjadi apa pun bagi siapa pun. Diam adalah sebuah kemewahan yang sering kali disalahpahami sebagai depresi.
Yang lainnya
Ngobrol dengan tembok tanpa harus menjadi batu bata.
Kalau saja loyalitas dijual grosiran
Sarkasme terbesarnya adalah: dunia justru lebih takut pada sesuatu yang diam daripada sesuatu yang bising. Sesuatu yang diam itu misterius; ia punya waktu untuk berpikir. Kipas angin yang tidak berputar itu mungkin sedang menertawakan Anda yang sedang berlari di atas treadmill kehidupan sampai napas habis. Dia sudah selesai dengan urusan "mendinginkan dunia". Dia sudah sampai pada tahap di mana validasi dari steker listrik tidak lagi menjadi sumber kebahagiaannya.
Upaya satu-dua putaran di tengah malam itu adalah bentuk pemberontakan eksistensial. Sama seperti manusia yang diam-diam belajar bahasa baru atau menulis puisi di buku catatan usang tanpa berniat memublikasikannya. Itu adalah bukti bahwa kehidupan masih berdenyut di bawah lapisan debu kegagalan. Kita tidak butuh dunia untuk melihat putaran itu. Kita hanya butuh diri sendiri untuk tahu bahwa mesin ini belum benar-benar macet. Kita masih punya kendali atas sisa energi yang kita miliki.
Jadi, biarkan kipas angin itu tetap di sana, dan biarkan diri Anda sesekali berhenti dari tuntutan sirkulasi sosial yang melelahkan. Menjadi "rusak" di mata sistem terkadang adalah satu-satunya cara untuk tetap utuh sebagai manusia. Kita tidak rindu berputar untuk kepentingan orang lain; kita hanya perlu memastikan bahwa di dalam kegelapan malam, kita masih mampu menggerakkan diri sendiri meski hanya satu derajat. Dan itu, lebih dari cukup untuk menertawakan dunia yang terus-menerus minta didinginkan.
Photo by George Chandrinos on Unsplash
