Menjelang 50 Tahun: Dari Masa Emas Menjadi Masa "Kuda Truk"
Dulu, saat masih muda dan penuh ambisi, saya membayangkan usia 50 adalah puncak gunung. Tempat di mana saya bisa duduk di kursi goyang, menyesap kopi tanpa beban, dan melihat matahari terbenam dengan perasaan menang. Nyatanya? Jangankan kursi goyang, duduk di lantai saja lutut sudah berbunyi seperti kerupuk kaleng. Selamat datang di usia "kepala empat plus", di mana gelar resmi saya bukan lagi Manajer atau Direktur, melainkan Sandwich Generation Senior.
Menjadi bagian dari Sandwich Generation usia 40-an itu mirip seperti jadi kuda truk di tanjakan curam. Di atas, ada orang tua yang sudah mulai r***l soal kesehatan; di bawah, ada anak-anak yang biaya sekolahnya makin tidak masuk akal. Di tengah? Ya, saya sendiri. Tubuh yang sudah mulai sering minta "servis besar" setiap bangun pagi harus dipaksa tetap berlari. Katanya ini masa emas, tapi sepertinya emas saya sudah habis dikonversi jadi tagihan listrik dan bensin. Kalaupun ada sisa emas, mungkin cuma nempel di gigi tiruan yang sebentar lagi harus dipasang.
Bicara soal pencapaian, kadang saya ingin tertawa melihat saldo rekening. Di usia yang harusnya sudah mapan, saya masih punya koleksi sakit yang lebih lengkap daripada koleksi aset. Mau nyicil KPR, eh, malah lebih rutin nyicil obat asam lambung. Dulu optimis bilang, "Rezeki rumah pasti ada." Sekarang? Rezekinya memang ada, tapi pas-pasan buat beli beras dan bayar kontrakan yang gentengnya hobi bocor saat hujan. Tapi uniknya, saya tidak kesepian. Ternyata banyak teman seumuran yang nasibnya sama: sekelompok orang bijak yang sepakat bahwa punya rumah sendiri adalah rencana cadangan untuk kehidupan selanjutnya.
Tantangan paling absurd adalah stamina. Secara fisik, saya ini mobil tahun 90-an; mesin sering overheat dan kalau nanjak sedikit langsung ngos-ngosan. Tapi secara tanggung jawab, dunia menuntut saya tetap punya performa mobil balap F1. Kita ini generasi yang terlalu tua untuk mulai dari nol, tapi terlalu miskin untuk berani berhenti kerja. Hiburan paling mewah saat ini cuma satu: melihat anak muda zaman sekarang mengeluh "burnout" karena WFA di kafe ber-AC, sementara memori kita dulu adalah pacaran di pinggir kali pakai sepeda ontel. Ironis? Jelas. Tapi setidaknya tertawa pada diri sendiri itu gratis dan bebas pajak.
Untungnya, di usia ini saya sudah lulus dengan gelar kehormatan: Magister Menertawakan Diri Sendiri. Kalau belum punya rumah, ya sudah, cat saja kontrakan sedikit lebih cerah supaya terasa seperti penginapan di Bali (bintang satu, tentu saja). Kalau tabungan ludes buat pengobatan orang tua, saya anggap itu investasi pahala biar nanti di sana tidak perlu antre panjang.
Kami, para pejuang sandwich, terhubung bukan lewat hobi mewah, tapi lewat rasa sakit punggung yang sinkron dan notifikasi m-banking yang bikin jantungan. Meskipun masa emas terasa lewat tanpa permisi, setidaknya saya masih punya energi untuk berjalan sambil bercanda. Hidup mungkin tidak semanis iklan asuransi, tapi selama masih bisa tertawa di atas beban yang berat, kita tetaplah pemenang. Tetap semangat, kuda-kuda tua. Perjalanan kita mungkin lambat, tapi setidaknya kita tahu cara menikmati pemandangan sambil memijat pinggang sendiri.
Photo by Praveesh Palakeel on Unsplash
