DIAM YANG TERLIHAT BIASA SAJA PADAHAL PENUH RASA BERSALAH YANG TAK PERNAH TERUCAP KE ORANG TUA

DIAM YANG TERLIHAT BIASA SAJA PADAHAL PENUH RASA BERSALAH YANG TAK PERNAH TERUCAP KE ORANG TUA

Ketika fase hidup di mana kata “maaf” terasa terlalu kecil untuk menampung semua yang ingin diakui. Bukan karena tidak tahu salah di mana, tapi justru karena terlalu tahu—dan itu bikin lidah kaku. Mau mulai dari mana? Dari janji yang dulu diucapkan dengan penuh percaya diri tapi sekarang cuma jadi arsip? Atau dari ekspektasi yang diam-diam hancur tanpa pernah benar-benar diperjuangkan?

Kamu duduk di rumah, lihat orang tua lalu lintas di depan mata—biasa saja, seperti tidak ada apa-apa. Mereka tanya hal sederhana, kamu jawab seperlunya. Padahal di kepala, kalimat permintaan maaf itu sudah muter ratusan kali. Ironis, ya. Semakin sering dipikirkan, semakin sulit diucapkan.

Dan yang bikin makin berat, ini bukan soal satu kesalahan. Ini akumulasi. Sedikit-sedikit numpuk—keputusan yang setengah matang, waktu yang terbuang, peluang yang dilewatkan karena takut atau malas. Jadi pas mau minta maaf, rasanya seperti harus membuka semua file lama yang bahkan kamu sendiri sudah capek lihatnya.

Lucunya, kamu tahu orang tua mungkin tidak butuh penjelasan sepanjang itu. Bisa jadi mereka cuma butuh satu kalimat sederhana. Tapi kamu yang keburu overthinking—takut dianggap gagal, takut mengecewakan lebih jauh, takut pengakuan itu justru memperjelas bahwa kamu belum sejauh yang mereka harapkan.

Akhirnya kamu memilih diam. Mengganti “maaf” dengan basa-basi, mengganti rasa bersalah dengan sikap sok santai. Seolah kalau tidak diucapkan, semuanya tidak benar-benar terjadi. Padahal ya tetap ada—nongkrong di pikiran, muncul tiap malam, dan kadang datang tanpa diundang pas lagi sendiri.

Ada juga rasa aneh—kamu bukan tidak sayang, bukan tidak peduli. Justru karena terlalu peduli, kamu jadi takut membuka percakapan itu. Takut mereka melihat sisi kamu yang paling rapuh. Padahal, bukannya itu yang selama ini mereka hadapi juga? Versi kamu yang belum selesai, yang masih berantakan.

Dan mungkin, masalahnya bukan soal menemukan kalimat yang sempurna. Tapi menerima bahwa permintaan maaf itu memang tidak pernah terasa cukup. Ya sudah—mulai saja dari yang tidak sempurna. Karena sering kali, yang bikin jarak itu bukan kesalahan besarnya, tapi keberanian yang terus ditunda.

Photo by Michaela St on Unsplash  

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama