TUTORIAL NGERTIK SEPULUH JARI ATAU CARA CEPAT KENA TEKANAN DARAH TINGGI ?


Jari telunjuk kanan barusan gemetar hebat pas mau tekan tombol 'P', persis kayak suspensi angkot jurusan Ciroyom yang dipaksa lewat jalan bolong. Padahal cita-citanya mulia: mau gaya ngetik sepuluh jari di umur kepala lima biar kelihatan kayak hacker di film Hollywood. Tapi ya itu, otak bilang A, jari manis malah asik nongkrong di tombol S. Sinkronisasi syaraf saya kayaknya sudah kena limitasi umur, atau mungkin memang kabel di kepala ini sudah mulai korslet kena lembapnya udara Bandung.

Niatnya sih mau produktif, tapi yang ada malah jadi ajang senam jari yang menyedihkan. Kalian tahu kan rasanya pas lagi semangat-semangatnya ngetik, terus tiba-tiba jari kelingking kiri mogok kerja? Dia diam saja di sana, kaku, menolak perintah buat tekan Shift. Mau marah juga ke siapa, kan ini jari sendiri. Kalau kalian merasa ngetik cepat itu gampang, coba deh suruh bapak-bapak umur 50 tahun ninggalin gaya ngetik "sebelas jari" alias cuma pakai dua telunjuk andalan yang matanya melotot tajam ke arah keyboard.

Latihan pakai aplikasi typing tutor itu malah bikin tensi naik. Itu suara "tet-tet" pas salah ketik beneran ngerusak harga diri banget, lho. Rasanya kayak lagi dimarahin bos di depan umum, tapi bosnya cuma mesin statistik yang nggak punya perasaan. Apa gunanya sih kecepatan ngetik 60 kata per menit kalau tiap tiga detik gue harus berhenti buat nyari di mana letak tanda titik koma? Mending gue pakai waktu itu buat ngopi di pinggir jalan daripada nyiksa sendi yang sudah minta dipoles balsem ini.

Lagian, teknologi sekarang sudah makin nggak sopan sama orang tua. Keyboard dibikin makin tipis, jarak antar tombol makin rapat, seolah-olah dunia ini cuma milik anak muda yang jarinya sekecil lidi. Jari gue yang sudah agak bengkak gara-gara kebanyakan makan sate maranggi ini jelas nggak kompatibel.

Emangnya kalian pikir gampang mindahin kebiasaan puluhan tahun cuma gara-gara lihat video tutorial di YouTube? Susah, Bos. Ibarat disuruh lewat Pasteur pas jam pulang kantor pakai gigi satu terus, ya begitulah stresnya.

Kenapa juga harus dipaksa ngetik pakai sepuluh jari kalau pakai dua telunjuk saja sudah bisa bikin status WhatsApp yang isinya nasihat religius sepanjang novel? Toh, pada akhirnya yang penting kan tulisannya sampai, bukan seberapa estetik gerakan tangan kita di atas meja. Buat apa gaya kalau baru ngetik dua paragraf saja pinggang sudah minta hak istirahat. Sekarang gue mau balik lagi ngetik pelan-pelan pakai gaya andalan, bodo amat mau disebut lambat atau gaptek, yang penting jari nggak kram sampai besok pagi. Mau coba ikutan stres juga atau mau lanjut scroll doang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit