HARGA MATI SEBUAH TANGGUNG JAWAB YANG TIDAK BOLEH KOSONG
Kita sering terjebak dalam narasi heroik yang memuakkan setiap kali melihat seorang lelaki berhasil melewati badai masalah yang bertubi-tubi. Orang-orang akan bertepuk tangan, menyebut kita kuat, cerdas, atau punya mental baja. Padahal? Sejujurnya kita cuma tidak punya pilihan lain. Bukan karena kita tahu persis apa yang harus dilakukan—seringkali kita cuma mematung di tengah badai dengan otak yang kosong melompong—tapi karena ada ketakutan yang jauh lebih besar daripada kematian: ketakutan melihat nilai tanggung jawab kita dianggap nol besar. Kasih sayang tanpa syarat itu bukan cuma sekadar perasaan hangat di dada, tapi beban manis yang memaksa kaki tetap berpijak saat dunia menyuruh kita berlutut.
Jangan salah sangka, ini bukan soal kepahlawanan yang ada di film-film. Ini soal sudut sempit di mana seorang lelaki dipojokkan oleh keadaan dan menyadari bahwa menyerah adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli. Menyerah berarti mengakui bahwa harga diri yang selama ini dijaga ternyata cuma remah-remah biskuit yang gampang hancur. Dan bagi lelaki, harga diri itu harga mati. Kita lebih memilih hancur berkeping-keping dalam diam daripada harus memelas perhatian atau mengemis kasihan dari orang lain. Seperti kata Charles Bukowski, "What matters most is how well you walk through the fire." Dan kadang, kita berjalan lewat api itu bukan karena kita tahan panas, tapi karena kita terlalu gengsi untuk lari sambil berteriak minta tolong.
Lagipula, apa gunanya kecerdasan kalau yang kita hadapi adalah nasib yang sedang hobi bercanda dengan cara yang kasar? Di titik tertentu, semua rencana hebat dan strategi logis itu menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah insting purba untuk bertahan demi mereka yang kita cintai, meskipun kita sendiri tidak tahu apakah esok pagi matahari masih sudi menyapa. Kita terus melangkah bukan karena kita yakin akan menang, tapi karena kita tahu bahwa berhenti berarti membiarkan kekosongan mengambil alih peran kita. Ironis, memang. Kita dianggap pilar yang kokoh, padahal di dalam, kita mungkin cuma sekumpulan retakan yang disatukan oleh lem bernama tanggung jawab dan sedikit ego yang menolak untuk terlihat menyedihkan di depan umum.
Pada akhirnya, keberhasilan melewati badai itu bukan bukti bahwa kita adalah manusia super. Itu cuma bukti bahwa kita cukup keras kepala untuk tetap berdiri saat pondasi sudah goyah. Tidak ada yang indah dari proses hancur secara perlahan, namun ada kepuasan getir saat kita menyadari bahwa meskipun babak belur, kita tidak membiarkan dunia melihat air mata kita sebagai alat tukar untuk simpati. Kita tidak butuh tepuk tangan atau belas kasihan. Kita cuma butuh memastikan bahwa apa yang kita jaga tetap aman, meskipun harga yang harus dibayar adalah diri kita yang tidak akan pernah sama lagi setelah badai itu berlalu.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...