ANAK DAERAH DI BAWAH KETIAK INVESTOR
Tanah kelahiran itu sekarang cuma jadi koordinat GPS di aplikasi absensi. Ironis memang. Kita bangun pagi-pagi, mandi buru-buru, lalu bergegas menuju gedung berkaca tinggi yang berdiri di atas bekas sawah tempat kakek kita dulu mengadu nasib. Sekarang, kita masuk ke sana bukan sebagai tuan tanah, melainkan sebagai "aset manusia" bagi korporasi yang markas besarnya bahkan tidak tahu cara mengeja nama desa kita dengan benar. Kita menjual delapan jam sehari—plus lembur yang tidak seberapa—untuk memastikan grafik keuntungan orang-orang di seberang samudra tetap hijau, sementara warna hijau di tanah kita sendiri sudah diganti dengan beton dan aspal panas.
Kita merasa beruntung. Kita bangga memakai kartu identitas berlogo asing di leher, seolah itu adalah jimat pelindung dari kemiskinan. Padahal, setiap kali kita melangkah masuk ke lobi kantor yang dingin dan steril, ada kenangan yang pelan-pelan terkikis. Aroma tanah basah setelah hujan dan bunyi serangga malam kini kalah telak oleh dengung AC dan bising notifikasi surel yang menuntut urgensi palsu. Kita dipaksa melupakan cara bicara dengan alam, diganti dengan bahasa korporat yang penuh istilah alignment dan sustainability, sementara ekosistem asli di luar jendela sedang sekarat tanpa kompromi.
Lalu, perlahan tapi pasti, kita mulai terpinggirkan. Harga kopi di kedai dekat rumah tiba-tiba setara dengan upah setengah hari, dan pajak tanah mendadak melambung tinggi karena investor bilang daerah ini punya "potensi investasi" yang besar. Akhirnya, orang lokal seperti kita memilih minggir. Kita pindah ke pinggiran, ke wilayah yang lebih murah, menjadi orang asing di tanah orang lain hanya agar bisa tetap punya tempat berteduh. Kita terusir secara halus oleh kekuatan modal yang dulu kita bantu bangun dengan keringat sendiri. Benar-benar sebuah skenario komedi hitam yang diputar berulang-ulang.
Pada akhirnya, cerita tentang bagaimana rimbunnya pohon buah di belakang rumah atau jernihnya sungai tempat kita mandi dulu hanya akan berakhir jadi dongeng pengantar tidur yang getir.
Kita menceritakannya kepada anak-anak kita dengan nada nostalgia yang hampir terdengar seperti fiksi. Sedih? Jelas.
Tapi apa boleh buat, besok pagi alarm akan berbunyi lagi, dan kita harus kembali menjadi "orang luar" yang rajin demi menjaga keberlangsungan hidup di tanah yang sudah tidak lagi mengenali langkah kaki kita.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...