SAAT PENDENGAR KEHABISAN RUANG
Kita ini spesies yang menggemaskan—atau mungkin agak menyedihkan (?). Kita mendewakan sosok "pendengar yang baik" seolah mereka adalah tangki air tanpa batas yang tidak akan pernah kering. Padahal, mereka juga manusia, bukan botol kosong yang tugasnya cuma menampung curhatan sampah dari ego kalian yang meluap-luap. Tapi ya sudahlah, apa boleh buat ?! di dunia yang isinya orang-orang haus panggung ini, menyadari perasaan seorang pendengar setia memang butuh kecerdasan emosional yang sepertinya sedang langka. Serius!
Masalahnya, menjadi pendengar itu melelahkan. Titik.
Bayangkan saja, setiap hari telinga mereka dipaksa menjadi pintu masuk bagi drama kantor, patah hati yang itu-itu saja, sampai keluhan tentang harga kopi yang naik. Harga bbm yang jumpalitan. Dan apa yang mereka dapatkan? Sebuah ucapan "makasih ya sudah dengerin" yang terasa hambar, sementara si pembicara langsung pergi dengan perasaan lega, meninggalkan si pendengar dengan beban pikiran yang baru saja berpindah tangan. Agak mirip buang hajat sih, sudah puas dibuang lalu pergi tanpa melihat ke belakang. Sungguh terlaluh...
Ada semacam arogansi terselubung dalam setiap sesi curhat. Kita sering merasa bahwa karena mereka diam, artinya mereka baik-baik saja. Karena mereka mengangguk, artinya mereka tidak punya masalah sendiri yang lebih berat. Padahal diamnya mereka adalah sebuah pengorbanan, sebuah upaya untuk tidak menginterupsi narasi kalian yang membosankan itu.
Ernest Hemingway pernah bilang, "I like to listen. I have learned a great deal from listening carefully. Most people never listen."
Ajaibnya, Hemingway lupa menambahkan bahwa orang yang terlalu banyak mendengar biasanya berakhir dengan kepala yang penuh suara asing tapi tidak punya ruang untuk suaranya sendiri.
Puitis? Mungkin. Tapi lebih tepatnya tragis. Si pendengar ini seperti sumur tua di tengah desa; semua orang mengambil airnya, semua orang membuang kotoran ke dalamnya, tapi tidak ada yang pernah terpikir untuk sekadar bertanya apakah air di dalamnya masih ada. Mereka butuh telinga juga. Mereka butuh seseorang yang tidak hanya menunggu giliran bicara, tapi benar-benar ingin membedah sunyi yang mereka simpan rapat-rapat di balik senyum sopan itu.
Dan gebrakan lanjutnnya, saat si pendengar ini mulai bicara, dunia seolah kaget. "Lho, kok kamu jadi baperan?" atau "Tumben kamu banyak mengeluh." Kalimat-kalimat sampah seperti itu keluar dari mulut orang-orang yang selama ini ditopang kewarasannya oleh si pendengar tadi. Betapa sarkasnya hidup; mereka yang memberi ruang paling luas justru sering kali menjadi yang paling tidak punya tempat untuk bersandar. 💥💥
Mungkin kita memang perlu belajar untuk sesekali menutup mulut dan memperhatikan getar suara orang yang biasanya diam. Jangan cuma jadi parasit emosional yang datang saat butuh dan hilang saat penuh. Karena pada akhirnya, pendengar yang paling tangguh sekalipun punya batas lelah. Dan saat mereka memutuskan untuk berhenti mendengar, kalian akan sadar betapa sunyinya dunia tanpa tempat sampah gratisan.
Jadi, silakan lanjut bicara tentang diri kalian yang luar biasa itu. Lanjutkan saja sampai kalian lupa bahwa manusia di depan kalian juga punya detak jantung, punya luka yang bernanah, dan punya rindu untuk didengarkan.
Tapi jangan komplain kalau suatu hari nanti, saat kalian mulai bercerita, kalian hanya akan menemukan sebuah ruang kosong dan gema suara kalian sendiri yang terdengar sangat—sangat—menyedihkan. wtf!
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...