Merasakan sensasi dingin yang menjalar di punggung saat menyadari jam sudah menunjukan waktu pukul lima sore, sementara di pojok meja kantor. sebuah kotak plastik tersegel rapi masih menatap kalian dengan penuh dendam ? itu bukan sekadar kotak makan; itu adalah mnifestasi fisik dari harapan, kasih sayang dan pengorbanan bangun pagi seoarng istri yang baru saja kalian terlantarkan.
Melewatkan makan siang bekal rumah bukan sekadar lupa mengisi perut, melainkan sebuah deklarasi perang pasif-agresif yang dampaknya jauh lebih destruktif daripada inflasi tahunan.
Bayangkan skenarionya; istri kalian sudah bertarung melawan kantuk dan uap wajah sejak subuh hanya demi memastikan nutrisi kalian terjamin, namun kalian justru memilih tenggelam dalam meeting yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat email, atau lebih parah lagi, tergoda ajakan teman kantor untuk makan nasi padang "atas nama solidaritas". Membawa pulang bekal yang masih utuh adalah kesalahan taktis; itu seperti membawa bukti kejahatan langsung ke hadapan jaksa penuntut umum di meja makan.
Sementara itu, opsi "menyerahterimakan" bekal tersebut kepada rekan kerja tanpa sepengetahuan sang koki adalah bentuk pengkhianatan intelektual.
Kalian memberikan apresiasi seni yang ditujukan khusus untuk kalian kepada orang asing hanya karena kalian malas menghadapi kenyataan bahwa kapasitas perut kalian terbatas. Di dunia dimana "sudah makan, yang?" adalah kalimat cinta paling tulus, membiarkan bekal itu basi adalah penistaan terhadap kurasi rasa yang tidak ada di menu restoran manapun.
Mungkin besok kalian akan mencoba menebusnya dengan memuji masaksan tersebut secara berlebihan, atau tiba-tiba pulang membawa makanan kesukaan istri sebagai tumbal perdamainan. Namun ingat memory sang istri tentang bekal yang diabaikan memiliki masa kadaluwarsa yang jauh lebih lama daripada rendang di dalam kotak makan tersebut.
Apakah besok kalian benar-benar memakannya ? atau kalian sedang melatih kemempuan akting untuk berpura-pura kenyang sambil membuang isinya di tempat sampah parkiran ?
Pilihan di tangan kalian masing-masing, tapi ingat dinding dapur punya telinga, dan dispenser punya ingatan.