| Photo by Emod on Unsplash |
Berjalan di bawah rindangnya kanopi Kebun Raya Bogor sambil mengagumi ketelitian plakat taksonomi Latin yang tertempel di batangnya. Ada romantisme yang sengaja dirawat di sana: seolah-olah tempat itu adalah monumen suci tempat ilmu pengetahuan murni dilahirkan oleh kejeniusan para naturalis Eropa. Sains, dalam narasi arus utama kita, selalu digambarkan memakai jubah putih yang bersih, objektif, dan bebas dari noda politik. Padahal, jika kita berani sedikit mengikis lapisan cat putih tersebut, yang terpampang di balik akar-akar tua itu adalah sisa-sisa sirkus imperialisme yang megah. Sains tidak pernah netral; ia adalah instrumen kekuasaan yang paling sunyi.
Gagasan tentang sains sebagai produk eksklusif pemikiran Barat adalah sebuah delusi sejarah yang sukses. Mari jujur: bagaimana mungkin seorang naturalis Eropa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Priangan, lumpuh oleh kelembaban tropis dan malaria, tiba-tiba bisa memetakan ribuan spesies tanaman dalam hitungan bulan? Jawabannya tidak pernah tertulis di buku teks sekolah kita. Ada ribuan pasang kaki pribumi yang meretas jalan di hutan perawan, ada jemari lokal yang memilah racun dan obat, dan ada lidah Nusantara yang mendiktekan khasiat tanaman tersebut. Sayangnya, dalam laporan ilmiah yang dikirim ke Leiden atau London, nama-nama mereka menguap begitu saja, digantikan oleh nama belakang sang majikan berkulit putih yang ditambahi akhiran -i atau -ae.
Kebun Raya Bogor, pada awal pendiriannya, bukanlah sekadar taman rekreasi ilmiah yang polos, melainkan sebuah living lab—laboratorium hidup bagi ekspansi imperialisme lewat tanaman. Di sinilah komoditas global seperti kopi, teh, dan kina dijinakkan, dihitung potensinya, dan direkayasa untuk mengisi kas kerajaan kolonial yang nyaris bangkrut. Alam Nusantara diperas menjadi deretan angka statistik dan data ekonomi. Di bawah kedok "eksplorasi ilmiah", terjadi konversi massal kekayaan hayati lokal menjadi modal kapitalis Barat, sementara pemilik tanah aslinya perlahan-lahan diasingkan dari tanah mereka sendiri, dipaksa menjadi buruh di atas tanah yang dulunya mereka pahami secara spiritual dan ekologis.
Di sinilah letak subjugasi pengetahuan yang paling kejam. Kolonialisme tidak hanya merampas rempah-rempah, tetapi juga hak manusia Nusantara untuk diakui sebagai produsen pengetahuan. Para staf lokal, penunjuk jalan, dan ahli tanaman tradisional di masa itu sebenarnya memiliki kearifan empiris yang jika dikonversi hari ini setingkat dengan gelar doktor. Mereka tahu persis kapan pohon tertentu berbunga, bagian mana yang menyembuhkan, dan bagaimana ekosistem bekerja secara holistik. Namun, oleh sistem kolonial yang rasis, keahlian itu diturunkan kelasnya menjadi sekadar "mitos", "takhayul", atau paling banter "bantuan teknis tanpa nama". Mereka dijadikan objek, bukan subjek dari sains itu sendiri.
Ironisnya, dominasi intelektual ini langgeng karena metode taksonomi Linnaeus yang diadopsi secara universal sukses menghapus nama lokal tanaman. Ketika sebuah tanaman obat diubah namanya menjadi bahasa Latin yang rumit, rantai sejarah dan kearifan lokal yang melekat padanya selama berabad-abad langsung terputus saat itu juga. Masyarakat lokal tiba-tiba merasa asing dengan tanaman di halaman rumah mereka sendiri karena sains modern mendiktekan bahwa pengetahuan yang valid harus datang dari jurnal-jurnal berbahasa asing yang ditinjau oleh institusi Barat. Kita dididik untuk tidak percaya pada ingatan nenek moyang kita sendiri sebelum sains Barat memberikan stempel legalitasnya.
Pertanyaannya, apakah praktik ini benar-benar telah berakhir ketika bendera Belanda diturunkan? Coba perhatikan bagaimana riset-riset internasional hari ini memperlakukan negara-negara berkembang. Polanya sering kali tetap sama: peneliti asing datang mengambil sampel genetik atau data ekologis kita, menggunakan asisten lokal untuk kerja lapangan yang melelahkan, lalu pulang untuk menerbitkan jurnal bereputasi tinggi tanpa mencantumkan nama ilmuwan lokal di baris kepemilikan utama. Kita masih sering memposisikan diri sebagai penyedia bahan mentah ilmiah, sementara industri pemikiran dan teori besarnya tetap dimonopoli oleh mereka yang berada di seberang samudra.
Melakukan dekolonisasi sains Nusantara bukan berarti kita harus membakar semua buku teks taksonomi dan kembali ke masa lalu secara naif. Ini adalah upaya keras kepala untuk menuntut kembali harga diri intelektual kita yang sempat dihapus secara paksa dari lembaran sejarah. Sudah saatnya kita berhenti memandang Kebun Raya Bogor dan warisan sains kolonial dengan tatapan inferior yang penuh kekaguman buta. Ketika kita mulai kritis mempertanyakan siapa yang diuntungkan dari sebuah teori dan siapa yang namanya dihilangkan dari sebuah penemuan, di situlah kita benar-benar mulai merdeka secara pikiran—karena sains sejati tidak lahir dari kepatuhan pada narasi penguasa, melainkan dari keberanian untuk menggugatnya.
Terinspirasi oleh "Kebun Raya Bogor: Saksi Ekspansi Imperialisme Lewat Tanaman", kanal YouTube Bagus Muljadi.