KELUAR DARI KRISIS RUPIAH TEMBUS 18.000, APAKAH SUDAH AMAN?

upiah Tembus 18.000: Selamatkan Gengsi Angka, Korbankan Kantong Warga?

Di Balik Drama Rupiah Tembus 18.000 dan Skenario "Penyelamatan" yang Mahal

Kita semua karena sempat menyaksikan momen bersejarah ketika Rupiah tembus 18.000 per dolar AS. Sebuah angka yang membuat para pembuat kebijakan di MH Thamrin dan Lapangan Banteng mendadak kehilangan akhir pekan yang tenang. Seperti biasa, alasan klasiknya sudah sangat siap di meja redaksi: badai di Timur Tengah yang bikin harga minyak melonjak, ditambah data ekonomi Amerika yang mendadak perkasa. Tapi mari jujur, menyalahkan Washington dan Timur Tengah tentu jauh lebih nyaman daripada mengakui bahwa investor global sedang cemas melihat manuver politik domestik, mulai dari utak-atik independensi Bank Indonesia oleh DPR hingga bayang-bayang defisit anggaran yang terlihat makin agresif.

Saat angka psikologis itu jebol, Bank Indonesia langsung mengaktifkan mode panik yang elegan lewat intervensi pasar valas di tiga lini sekaligus. Ketika guyuran dolar dari cadangan devisa dirasa belum cukup mempan meredam aksi jual, emergency hike pun dilepaskan: BI Rate ditarik naik ke level 5,50%. Pemerintah tidak mau kalah panggung dengan memperkeras aturan DHE SDA, memaksa para eksportir pahlawan devisa kita untuk memarkir seluruh dolar mereka di dalam negeri. Hasilnya? Manjur. Pasar keuangan yang sempat oversold langsung berbalik arah, dan Rupiah berhasil merangkak turun kembali ke bawah level 18.000 seolah-olah badai telah berlalu.

Namun, tidak ada makan siang gratis dalam ilmu ekonomi, apalagi untuk menyelamatkan sebuah ego nilai tukar. Keberhasilan menurunkan tensi dolar ini harus dibayar mahal oleh sektor riil yang justru sedang megap-megap. Kebijakan menaikkan suku bunga acuan secara mendadak jelas menjadi kabar buruk bagi siapa saja yang punya cicilan, sementara lonjakan harga BBM nonsubsidi hingga 32% sukses memukul daya beli kelas menengah yang tidak punya jaring pengaman sosial. Industri manufaktur kita yang masih ketergantungan bahan baku impor kini harus menelan pil pahit: biaya produksi membengkak di saat masyarakat justru sedang menahan belanja.

Saat ini, otoritas mungkin bisa bernapas sedikit lega karena angka di papan kurs terlihat lebih jinak, tetapi fundamental kita sebenarnya masih terjebak di zona kuning yang rawan. Mengharap keajaiban dari retensi dolar komoditas tanpa membenahi sentimen tata kelola dalam negeri jangka panjang hanyalah taktik mengulur waktu. Jika cadangan devisa terus terkuras untuk menyubsidi biaya hedging investor asing sementara independensi bank sentral terus digoyang, jangan kaget jika sewaktu-waktu fluktuasi liar ini kembali datang. Menjaga gengsi angka 18.000 memang penting, tapi memastikan dapur masyarakat tetap mengepul jauh lebih krusial.

Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash

CNBC International - Capital Outflow & Emergency Rate Hike

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama