Google vs Pentagon: Sebuah Komedi Etika dalam Dua Babak
Akhirnya, setelah dua bulan bersemedi mencari wangsit, Google resmi bilang "nggak dulu" buat kontrak drone Pentagon senilai $100 juta. Luar biasa, ya? Butuh waktu 60 hari cuma buat mutusin kalau jadi "penyedia otak" buat mesin pembunuh itu ternyata agak kurang estetis di CV perusahaan. Kita harus angkat topi buat tim manajemen Google yang seolah-olah baru sadar kalau AI mereka bisa dipakai buat hal-hal selain rekomendasi video kucing di YouTube.
Tapi mari kita jujur, jeda dua bulan itu bukan buat mikirin moralitas, melainkan buat ngitung untung rugi di meja humas. Kalau Google langsung nolak di hari pertama, mereka bakal kelihatan terlalu suci. Kalau langsung terima, ribuan karyawan mereka yang "terlalu idealis" itu pasti bakal demo lagi sambil bawa poster etika AI. Jadi, dua bulan ini adalah waktu yang pas buat bikin drama seolah-olah ada pergulatan batin yang hebat antara nurani dan pundi-pundi.
Lucunya, Google selalu bawa-bawa "Prinsip AI" yang melarang pengembangan senjata otonom. Manis sekali, seperti janji kampanye. Tapi pertanyaannya: kalau prinsip itu emang harga mati, kenapa pintu buat Pentagon nggak langsung dibanting dari awal? Kenapa harus pakai acara "melihat peluang" dulu? Mungkin prinsip etis di Silicon Valley itu sifatnya opsional, kayak dark mode di aplikasi; bisa dinyalain kalau silau sama kritik publik, tapi bisa dimatiin kalau lagi butuh cuan di ruang gelap.
Jangan lupakan juga kalau Google itu ibarat remaja yang dilarang pacaran sama orang tuanya (publik), tapi diam-diam masih kirim pesan singkat di bawah selimut. Penolakan publik ini cuma panggung depan. Di panggung belakang, mereka masih asyik main di proyek komputasi awan militer yang nggak kalah jumbo nilainya. Jadi, bilang "tidak" buat drone bukan berarti mereka benci militer, mereka cuma nggak mau fotonya terpampang bareng rudal saat lagi kampanye Go Green.
Belum lagi kalau paman Sam sudah mengeluarkan kartu as bernama Defense Production Act. Ini adalah undang-undang darurat yang bisa maksa perusahaan manapun—termasuk Google—buat nurut demi pertahanan nasional. Jadi, meskipun hari ini mereka bergaya bak pahlawan kemanusiaan yang menolak kekerasan, kalau pemerintah AS bilang "kami butuh kodinganmu sekarang," Google cuma punya dua pilihan: patuh atau pindah kantor ke Mars. Dan sejauh ini, Mountain View masih lebih nyaman daripada kawah di planet merah.
Para pengamat pun cuma bisa senyum simpul melihat akrobat ini. Mereka tahu Google sedang terjebak dalam dilema klasik warga korporat Amerika Serikat. Di satu sisi ingin terlihat progresif dan liberal di mata dunia, di sisi lain tetap harus jadi anak emas Pentagon biar nggak dipersulit urusan regulasi dan monopoli. Ini bukan soal moralitas murni, ini soal bagaimana caranya tetap dapat kontrak militer tanpa bikin pengguna mereka merasa sedang mendanai kiamat robot.
Pada akhirnya, mundurnya Google dari kontes drone ini lebih mirip sandiwara dua panggung yang digarap rapi. Mereka dapat poin plus buat citra publik, tapi tetap menjaga pintu belakang tetap terbuka lebar buat Pentagon. Memang sulit ya, mau jadi "perusahaan baik" tapi rumahnya di negara yang hobi perang. Jadi, kalau besok lusa ada drone militer yang mendadak punya algoritma secerdas Google Search, jangan kaget—mungkin itu cuma "kebetulan" yang terjadi tanpa kontrak resmi.
written inspired by thedefensepost.com and Photo by Adarsh Chauhan on Unsplash
