Tatap layar itu, atau mungkin cermin yang sudah sedikit berdebu di sudut kamar. Lihat wajah yang tampak "biasa saja" itu. Selamat, kamu masih ada di sini, masih menghirup oksigen yang syukurnya belum dipajaki negara. Tidak perlu pasang muka prihatin sambil memamerkan bekas luka lama seolah itu medali olimpiade. Simpan dramanya. Fakta bahwa jantungmu masih memompa darah malam ini tanpa kamu instruksikan, itu sudah lebih dari cukup untuk menutup hari yang melelahkan ini.
Mari jujur, kamu bukan jagoan di film aksi yang berjalan gagah menembus ledakan. Kamu hanya manusia yang terjebak di tengah kekacauan, yang kalau ditanya mau apa besok, mungkin cuma bisa angkat bahu. Kamu bertahan bukan karena punya rencana cadangan yang brilian atau mental baja yang tidak bisa retak. Kamu bertahan sesederhana karena kamu tidak tahu lagi harus berbuat apa selain tetap bangun setiap pagi. Bingung adalah bahan bakar utamamu, dan itu sangat manusiawi.
Masih bernapas itu kemenangan biologis, kawan. Jangan remehkan paru-parumu yang tetap bekerja meski pemiliknya sering mengeluh ingin berhenti. Di dunia yang menuntutmu jadi "sesuatu", menjadi organisme yang tetap berfungsi adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan dengan segelas air putih dan tidur lebih awal. Tubuhmu tidak peduli dengan cicilanmu, dia hanya peduli pada kelangsungan hidupnya sendiri.
Lalu, di tengah otak yang rasanya ingin meledak, kamu masih sempat bertanya "kenapa?" atau sekadar belajar cara bikin kopi yang lebih enak. Itu kemenangan intelektual. Kamu belum menyerah menjadi bodoh sepenuhnya. Meskipun pertanyaan-pertanyaanmu seringkali tidak menemukan jawaban, fakta bahwa sinapsis di otakmu masih berusaha menyambung satu ide ke ide lain menunjukkan bahwa kamu belum tamat. Intelektualitas tidak selalu soal gelar, kadang itu soal rasa penasaran yang keras kepala.
Pernah merasa muak, tidak puas, atau merasa hidup ini ironis sekali? Jangan dikubur. Itu kemenangan emosional. Hanya makhluk yang benar-benar hidup yang bisa merasakan pahitnya ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realita. Jika kamu masih bisa merasa kesal karena harimu berantakan, artinya radarmu masih berfungsi. Kamu belum jadi robot yang mati rasa, dan di zaman sekarang, itu adalah kemewahan yang mahal.
Puncaknya adalah ketika kamu masih mencoba mengorek makna dari kejadian-kejadian sampah yang ingin sekali kamu lupakan. Itu kemenangan spiritual. Memilah hikmah di tengah tumpukan memori yang memuakkan bukan pekerjaan orang lemah. Kamu sedang mencoba menyusun puzzle yang potongannya banyak yang hilang, namun tetap mencoba memasangnya satu per satu. Spiritual bukan selalu soal dupa dan doa, tapi soal keberanian mencari alasan untuk tetap ada di sini besok pagi.
Jadi, kalau kamu masih bersikeras bilang diri kamu lemah hanya karena kamu merasa "terpaksa" bertahan, pikirkan lagi. Jika mencari makna di tengah kebingungan, menjaga organ tetap jalan di tengah keputusasaan, dan tetap bertanya di tengah kebuntuan itu bukan disebut tangguh, lalu mau disebut apa? Mungkin kita memang bukan jagoan, tapi setidaknya kita adalah pemenang yang paling jujur terhadap rasa bingungnya sendiri.
Photo by Jack Delulio on Unsplash
