MENGAPA TEMAN ANTI-KRITIK LEBIH MEMILIH DRAMA DIBANDING LOGIKA

Debat atau Diskusi ?

Terkadang, niat baik memang butuh asuransi kerugian. Saya baru saja diingatkan bahwa mencoba menjadi suara logika di tengah badai emosi seseorang itu mirip seperti menawarkan payung saat orang tersebut sedang menikmati peran sebagai korban hujan. Saya menyarankan seorang teman untuk diam, mengabaikan sindiran publik yang murahan, karena menurut kalkulasi saya—yang mungkin terlalu waras—melayani omongan sampah hanya akan membuat kita ikut berbau sampah. Tapi apa hasilnya? Saya justru dituduh sedang membela si penyindir.

Logikanya sungguh ajaib: jika saya tidak ikut menggonggong bersama dia, berarti saya ada di pihak lawan. Padahal, keputusan untuk tidak menanggapi adalah bentuk pertahanan diri paling elegan. Toh, tidak ada saldo bank yang berkurang atau reputasi yang hancur hanya karena sindiran satu-dua orang yang profilnya saja tidak jelas. Namun sepertinya, bagi sebagian orang, "pembelaan" bukan berarti dilindungi dari konflik, melainkan ditemani untuk masuk ke dalam kubangan lumpur yang sama.

Sekarang, saya sedang menikmati keheningan karena didiamkan. Sebuah hukuman yang sebenarnya terasa seperti hadiah. Menariknya, saya tidak sendirian dalam "pengasingan" ini. Teman paling dekatnya pun mengalami nasib serupa; dituduh berkhianat hanya karena mencoba bersikap dewasa. Rupanya, dalam pengadilan emosi yang dia bangun, objektivitas adalah tindak pidana berat dan memaklumi provokasi adalah pengkhianatan tingkat tinggi.

Drama ini semakin naik kelas ketika melibatkan pihak ketiga—teman dari teman dekat saya tadi—yang sudah lebih lama saling mengenal. Alih-alih mendinginkan suasana, sosok senior dalam pertemanan ini malah ikut menyalahkan kami yang mencoba bijak. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana sebuah lingkaran pertemanan bisa secara kolektif memutuskan untuk menanggalkan akal sehat demi solidaritas yang salah tempat.

Kenapa sih, kedewasaan seringkali dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian? Kita hidup di era di mana orang lebih haus akan validasi kemarahan daripada solusi perdamaian. Padahal, mengabaikan orang yang mencari panggung di depan publik adalah cara tercepat untuk meruntuhkan panggung mereka. Tapi ya, sudahlah. Tidak semua orang siap menerima kenyataan bahwa musuh terbesar mereka sebenarnya bukanlah si penyindir, melainkan ego mereka sendiri yang meledak-ledak.

Melihat pola ini, saya jadi belajar bahwa ada tipe orang yang memang butuh konflik agar merasa "hidup". Bagi mereka, saran untuk tetap tenang adalah penghinaan terhadap intensitas perasaan mereka. Jadi, jika membela dengan cara menjaga martabatnya malah dianggap sebagai serangan, mungkin lain kali saya harus membiarkannya saja babak belur di arena publik. Setidaknya, itu akan memberinya alasan yang sah untuk marah, bukan sekadar imajinasi tentang pengkhianatan teman.

Pada akhirnya, saya memilih untuk tetap tenang dalam "hukuman" diam ini. Menghadapi teman yang anti-kritik memang butuh stok kesabaran yang lebih luas daripada samudera, atau mungkin, cukup butuh satu langkah mundur yang tegas. Jika untuk dianggap sebagai teman saya harus ikut menjadi tidak bijak, maka menjadi "orang asing yang salah" rasanya jauh lebih terhormat dan tidak melelahkan bagi kesehatan mental saya ke depannya.

Photo by luca romano on Unsplash  

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama