Dunia kerja kita terkadang menyerupai perjamuan makan malam keluarga yang dipaksa menjadi rapat dewan direksi. Kita semua sepakat, setidaknya dalam pidato pembukaan, bahwa profesionalisme vs nepotisme adalah pertarungan antara masa depan dan masa lalu. Namun, di lapangan, profesionalisme sering kali hanya menjadi pemanis dokumen ISO, sementara keputusan penting diambil di sela-sela obrolan grup WhatsApp keluarga besar.
Standar kompetensi yang disusun susah payah mendadak menjadi opsional ketika seseorang dengan marga yang "tepat" melintasi pintu masuk, membuat sertifikasi internasional rekan sejawatnya terlihat seperti kertas pembungkus kacang.
Pengalaman memang guru yang baik, tapi dalam banyak organisasi, ia sering kali sekadar menjadi alasan untuk menolak pembaruan. Ada semacam mitos bahwa bekerja selama dua puluh tahun di posisi yang sama secara otomatis melahirkan kebijaksanaan, padahal tanpa etos kerja yang objektif, itu hanyalah rutinitas yang dikemas ulang sebagai "senioritas".
Celakanya, pengalaman ini sering dijadikan benteng untuk melindungi zona nyaman dari serangan anak-anak muda profesional yang punya kapasitas tapi kurang "jam terbang" (baca: kurang koneksi). Profesionalisme tanpa pengalaman mungkin mentah, tapi pengalaman tanpa profesionalisme hanyalah kegagalan yang diawetkan dengan sangat rapi.
Lalu datanglah variabel paling magis: hubungan keluarga. Dalam budaya kita yang sangat hangat dan kolektivistik ini, menolak keponakan sendiri untuk posisi manajer dianggap lebih berdosa daripada membiarkan perusahaan rugi milyaran. Kita menyebutnya "harmoni," padahal itu adalah bias yang dibungkus dengan sopan santun. Saat kapasitas profesional dikalahkan oleh kedekatan genetik, moral tim bukan sekadar merosot; ia melakukan terjun payung tanpa parasut.
Lucu melihat bagaimana sebuah tim diminta untuk mencapai target global yang ambisius, sementara instruksi strategisnya datang dari seseorang yang kualifikasi utamanya hanyalah hadir di acara syukuran tahunan sang bos besar.
Membangun sistem meritokrasi memang jauh lebih melelahkan daripada sekadar membagi-bagikan kursi berdasarkan pohon silsilah. Transparansi seringkali terasa dingin dan tidak berperasaan bagi mereka yang terbiasa hidup dalam kehangatan koneksi orang dalam.
Namun, organisasi yang sehat harus cukup berani untuk menyadari bahwa operasional kantor bukan tentang memelihara "darah biru," melainkan menjaga integritas tetap biru. Karena sehebat apa pun nama belakang seseorang, ia tidak akan pernah bisa menambal kebocoran laporan keuangan yang disebabkan oleh ketidakmampuan yang dipelihara atas nama cinta keluarga.
Photo by Viktor Smoliak on Unsplash
