NARSISME INTELEKTUAL, MENGHANGATKAN DUNIA LALU SEMBUNYI
Dunia maya kita hari ini adalah panggung sandiwara paling lucu, tempat para "pejuang keadilan sosial" alias social warrior nangkring dengan kosa kata yang dipoles sedemikian rupa agar terlihat intelek. Mereka bicara soal kemanusiaan, progresivitas, dan perubahan besar dengan nada yang menggebu-gebu, seolah-olah dunia bakal kiamat kalau tulisan mereka tidak dibaca. Permainan katanya ciamik, retorikanya kelas tinggi, dan keyakinannya? Jangan ditanya. Sudah setebal tembok Berlin. Mereka merasa sedang mempersembahkan sebuah mahakarya pemikiran yang harusnya masuk museum, bukan sekadar lewat di timeline yang fana ini.
Tapi, ada satu anomali yang menggelitik. Setelah melempar "bom" opini yang katanya paling benar sedunia, mereka langsung buru-buru menutup pintu. Ya, kolom komentar dibatasi atau malah dimatikan total. Takut? Mungkin. Atau mereka hanya merasa bahwa pikiran "suci" mereka tidak boleh dinodai oleh komentar orang-orang biasa yang dianggap tidak selevel secara intelektual.
"Criticism may not be agreeable, but it is necessary,"
Tapi bagi para pejuang ini, kritik adalah polusi yang harus segera dibasmi sebelum merusak estetika narsisme mereka. Lucu, kan? Berkoar-koar soal kebebasan dan perubahan, tapi alergi dengan suara yang berbeda.
Ini adalah strategi perang paling pengecut yang dikemas dengan rapi. Mereka pintar memilih medan perang yang bisa mereka kontrol sepenuhnya. Mereka mengatur aturan mainnya sendiri: aku bicara, kamu diam dan saksikan kehebatanku. Saat argumen mereka mulai goyah atau saat musuh yang dihadapi ternyata lebih cerdik, jurus pamungkasnya adalah masuk kembali ke dalam "cangkang" kenyamanan. Di sana, mereka merasa aman, merasa menang, dan hanya akan keluar lagi untuk memilih musuh yang sudah pasti bisa mereka kalahkan. Mentalitas pemenang di dalam tempurung.
Pada akhirnya, mereka hanya butuh satu hal: validasi bahwa mereka adalah pahlawan, meski itu hanya terjadi di kepala mereka sendiri. Mereka melempar cacian, menyulut api, lalu duduk manis di dalam cangkang sambil mengunyah kepuasan semu. Yang penting pesan tersampaikan, yang penting ego terpenuhi, dan yang penting aman dari serangan balik. Sebuah sirkus intelektual yang membosankan—tapi hei, setidaknya mereka merasa telah menyelamatkan dunia dari balik layar ponsel, bukan?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...