MANAJEMEN LIMBAH PIKIRAN, MENGAPA MARAH ITU TERLALU MURAHAN
Dunia ini sudah terlalu bising dengan orang-orang yang merasa perasaannya adalah pusat semesta. Kalau saya memilih untuk tidak ikut dalam sirkus emosional kalian, itu bukan berarti saya jahat—saya hanya sedang melakukan manajemen limbah pikiran. Menjaga hati dan pikiran agar tetap fokus di tengah gempuran drama itu seperti mencoba meditasi di tengah konser musik metal; sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Jika ketenangan saya harus dibayar dengan label "kasar" dari mulut kalian, silakan saja. Saya lebih suka dianggap batu daripada jadi spons yang menyerap semua sampah emosi yang kalian lempar sembarangan.
Memangnya siapa yang punya waktu untuk kecewa berkali-kali? Kecewa itu melelahkan, menguras energi, dan yang paling parah: tidak menghasilkan uang. Kita seringkali terlalu baik hati membiarkan orang lain menyewa ruang di kepala kita tanpa membayar sepeser pun. Padahal, pikiran ini adalah properti eksklusif, bukan panti sosial untuk segala macam keluhan receh. Friedrich Nietzsche pernah menyindir dengan manis, "In individuals, insanity is rare; but in groups, parties, nations and epochs, it is the rule." Nah, saya lebih memilih menjadi individu yang "gila" karena waras sendirian daripada ikut gila massal demi validasi sosial.
Lagipula, apa gunanya marah? Marah itu seperti meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Kuno sekali. Saya sudah sampai pada tahap di mana fokus adalah satu-satunya mata uang yang berharga. Kalau saya tidak bereaksi terhadap provokasi atau ekspektasi kalian yang tidak masuk akal, itu karena nilai kalian di bursa saham perhatian saya sedang anjlok. Anjlok parah. Jadi, jangan baper kalau saya terlihat tidak peduli. Saya cuma sedang sibuk memastikan bahwa satu-satunya orang yang bisa merusak hari saya adalah saya sendiri, bukan amatiran seperti kalian.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...