![]() |
| Mengapa Pikiran Cepat Sering Salah Diterima Sebagai Sikap Tidak Sopan |
Yang saya fahami, setelah bolak-balik mencoba logikanya. Bayangin otak kita seperti naik kereta yang berhenti di setiap stasiun dari stasiun A, B, C, lalu sampai ke stasiun D. Tapi orang yang pikirannya cepat ini naiknya kereta Whoosh, mereka lihat stasiun A langsung ngacir dan sampai ke stasiun D, melewati B dan C. Bagi mereka, jalurnya udah jelas karena jalur relnya sudah terbayang di kepala. Masalahnya ? Lawan bicaranya yang naik kereta biasa merasa ditinggal sendiri di stasiun B. Dari situlah awalnya salah paham. Si pemikir cepat dianggap sok tahu, padahal sebenarnya dia hanya sampai di stasiun D lebih dulu.
Nah, karena ketinggalan kereta ini yang menjadi salah tangkap sinyal. Sikap si pemikir cepat yang sebenarnya netral (fokus ke ide). bisa dibaca sebagai sikap yang kurang ajar atau dianggap sok tahu. Menyela dianggap tidak sabaran. Langsung ke inti dianggap tidak mau menghargai proses. Ekspresi wajah yang munkin lagi serius mikir salah dibaca sebagai bosan atau meremehkan. Pada akhirnya, dia dapat lanel "tidak punya etika" atu "susah diajak kerja sama", padahal mungkin sekali niatnya baik: hanya ingin kebih efesien dan cepat menemukan solusi.
Selanjutnya solusi yang bisa diambil agar tidak salah paham terus, katanya ada di kesadaran dan sedikit penyesuaian. nah, dari sini sebenarnya agak terlalu dalam. Ok, jadi solusinya apa ? sebenarnya, jawabannya mungkin lebih sederhana: empati. Sisanya, ya! kesadaran dan biarkan penyesuaian mengalir untuk tujuan yang sama.
ya sudah, kadang kita bisa lebih cepat pemahamannya dari orang lain, dan ada kalanya kita bahkan lebih lambat pemahamannya dari lawan bicara kita. Keduanya, bisa terjadi bersamaan, dengan si A kita lebih lambat tapi dengan si C kita lebih cepat. Kita perlu belajar empati, mencoba memahami cara orang lain berfikir, bukan cuma isi pikirannya. Dengan begitu, perbedaan kecepatan mikir tidak jadi jurang, tapi berubah menjad warna yang membuat kolaborasi semakin kaya.
