Generasi "Jembatan"
1998, Reformasi, dan Wi-Fi: Kenapa Angkatan 70-an Akhir Adalah 'Survivor' Sejati.
Kita bicara soal mereka yang lahir antara 1975–1978, sebuah kelompok manusia yang secara teknis adalah "jembatan" peradaban. Kita tumbuh besar dengan kaset pita yang harus diputar pakai pensil kalau kusut, tapi sekarang dipaksa paham cara kerja prompt AI agar tidak digantikan mesin. Kita adalah generasi yang masa remajanya dihabiskan dengan menunggu surat cinta di kotak pos, namun saat dewasa harus bergulat dengan centang biru WhatsApp yang bikin overthinking.
Analog di Hati, Digital di Jari: Nasib Lulusan 75-78.
Bayangkan saja, saat kita sedang asyik-asyiknya mencari jati diri, reformasi 1998 meledak tepat di depan muka. Kita melihat tatanan lama runtuh, krisis ekonomi mencekik, dan mendadak dunia yang kita kenal berubah total dalam semalam. Fenomena ini unik karena kita tidak punya pilihan selain beradaptasi cepat: pagi hari ikut demo atau liat berita di TV tabung, malamnya belajar cara pakai internet yang bunyinya masih nguung-nguung saat dial-up. Kita adalah saksi sejarah yang tidak sekadar menonton dari pinggir jalan, tapi benar-benar kena debunya.
Dari Wartel ke Starlink: Kisah Generasi yang Paling Sering 'Update Software' Mental.
Lucunya, meski sekarang dunia didominasi anak muda yang lahir sudah memegang iPad, kita tetap relevan dan tidak kalah saing. Kita masih bisa nongkrong di LinkedIn dengan profil profesional, sambil diam-diam merindukan aroma kertas koran di pagi hari. Kita adalah generasi yang tahu caranya bertahan hidup tanpa Google Maps, tapi cukup pintar untuk tidak tersesat di rimba media sosial. Kita bukan generasi yang gaptek, kita hanya generasi yang tahu bahwa hidup pernah jauh lebih tenang sebelum ada notifikasi grup keluarga yang isinya berita hoax.
Bukan Milenial, Bukan Boomer: Kita Adalah Generasi Transisi yang Paling Tangguh.
Jadi, buat kalian yang lahir di tahun-tahun tersebut, selamat! Kalian adalah bukti nyata bahwa manusia bisa bertahan melewati tiga zaman tanpa kehilangan kewarasan (meskipun sedikit sinis itu perlu). Bagaimana menurut kalian, lebih kangen masa analog yang tenang atau lebih suka kemudahan digital yang bikin pusing ini? ya !! life goes on !!
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...