Artikel Terbaru

Home » » Insomnia = penyakit lapar di malam hari

Insomnia = penyakit lapar di malam hari

Posted by Mang Udung Gaya on 21 Juli 2009

Tidak ada yang paling menyenangkan bagi Mamang adalah di depan komputer, kala malam hari dimana semua orang sudah tertidur pulas, hanya ditemani tv yang terus menyala, menayangkan film yang sudah ditayangkan beberapa kali, kini ditayangkan ulang.

Beberapa bungkus rokok, segelas kopi panas, dan tidak lupa cemilan manis. Ini dia cemilan manis, malam minggu kemarin ketika semua orang mengisi malam minggu pergi keluar rumah. Saya mengajak istri ke dokter praktek di simpang dago.

Macet sekali menuju ke sana. Dengan berboncengan ku arahkan motor ke jalan Hasanudin. Maksudnya melewati jalan ini ketemu dengan jalan dago langsung menyebrang jalan ke arah utara dan tiba tepat di depan dokter Ratna praktek. Sudah 2 kalinya kami check-up di tempat ini, dulunya tempat praktek ini adalah tempat dimana salah satu bank terbesar di Indonesia dinyatakan bangkrut. Yayasan Budha Tsu Chi, istri saya cocok dengan Dokter Ratna yang setiap hari sabtu praktek di sana.

Setelah daftar, kami duduk menunggu giliran. Satu persatu pasien berkurang. Saya lihat ada timbangan badan tidak jauh dari tempat kami duduk. Iseng muncul, saya menghampiri alat penimbang badan tersebut.

Ketika saya naik, alangkah kagetnya... angka menunjukan 93 kilo !! waduh.. sedikit kaget campur tengsin karena sedari tadi istri juga memperhatikan angka-angka hitam dan arah jarum penunjuk bergerak. Semakin menyadari betapa bohaynya badan ini, dengan menggunakan kata-kata keren namun memalukan, yaitu obesitas.

Istri saya, meski rasa "kagak enak body" alias "panas tiris" menghinggapi badannya semenjak 2 hari terakhir berlalu meninggalkan timbangan badan memalukan itu sambil menahan senyumannya. Meninggalkan saya sendirian yang sedang meyakinkan diri sendiri kalau timbangan badan tersebut perlu proses perbaikan.

93 kilogram terus menghantui. Sampai di jalan pikiran masih ada angka 93 terbayang-bayang di mata *kayak syair lagu dangdut* Melihat rumah bernomor 93. Seseorang berlalu dengan Mio mengenakan jaket bertuliskan 93. Perasaan aneh muncul, rasanya dari tadi orang-orang banyak yang memacu kecepatan kendaraannya lebih cepat dibanding saya. ketika melihat speedometer, padahal percuma karena alat ini sudah tidak berfungsi sama sekali. Selain jarum merah penunjuknya sudah patah. lampu latarnya pun sudah tak terang sempurna. Saat itu, seperti mimpi angka yang ditunjukan speedometer rusak itu pada angka sembilan puluh tiga !! loh ?!

Malamnya, saya berniat untuk mengurangi kapasitas ngemil yang secara rutin menjadi kegiatan ritual menemani acara begadang online di depan komputer, cukup dengan 1 cemilan saja, yaitu : SINGKONG MELETUS !!



93kg



Thanks for reading & sharing Mang Udung Gaya

Previous
« Prev Post

Recent Posts

Recent Posts Widget

Popular Posts