Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral
kalimat yang menurut saya lucu hari ini, adalah: "jempol kaki disengat lebah", kisah tragis itu lain kali saya ceritakan.
Saya Bisa Membunuh Lebah Itu—Tapi Memilih Tidak: Tentang Kuasa, Moral, dan Tombol yang Mudah Ditekan
Lalu saya mengambil raket listrik, dari ruang sebelah. Alat yang praktis, efisien, dan dianggap “normal” untuk membasmi serangga. Namun yang terjadi justru sebaliknya: ketika saya kembali lagi ke meja saya, dan mulai mendekatkan raket listrik itu pelan-pelan. Lebah itu berpindah dan hinggap di raket. Lebah itu beneran tidak tahu dia sedang berjalan menuju area eksekusi. Tapi tombolnya belum saya tekan. Pelan-pelan saya lalu membawanya keluar ruangan, perlahan, sedikit berjinjit -padahal engga nyambung mirip seperi orang bawa segelas kopi yang kepenuhan, takut tumpah-tumpah. Tanpa niat lain sih, selain menjauhkan lebah itu dari area kekuasaan saya. Kebetulan ada pohon jeruk bali di depan gedung ini, pohon yang doyan berbuah di musim apapun tapi buah jeruk bali nya tidak pernah memuaskan. Meski berbuah lebat dan besar-besar tapi rasanya asem kecut dan pahit. Sepahit kenyataan kalau gaji bulanan hanya lewat saya menutupi cicilan, seolah tidak betah ada di dompet.
Ketika raket saya dekatkan ke pohon jeruk itu, pelan tapi pasti lebah itu langsung pindah ke salah satu daun dari pohon jeruk. Tidak ada ucapan selamat tinggal, tidak ada keraguan, juga tanpa menoleh sedikit pun. apalagi perkataan "semoga kita bertemu lagi di waktu dan gelombang yang sama". Tidak sama sekali. Lebah itu berlalu, selamat dan masih hidup. Tidak ada yang mati. Tidak ada yang terbakar. Tanpa meragukan kemampuan raket listrik juga.
Efisien, Cepat, dan Salah? Ketika Keputusan Praktis Bertabrakan dengan Moral
Secara teknis, ini adalah keputusan paling mudah di dunia. Satu sentuhan tombol saja sudah cukup untuk mengakhiri semuanya. Tidak ada risiko bagi saya, tidak ada saksi, dan tidak ada konsekuensi langsung. Justru karena itulah keputusan ini menjadi menarik. Hidup sering kali menguji kita bukan lewat pilihan besar yang heroik, tetapi melalui keputusan kecil yang nyaris tak diperhitungkan. Di situlah nilai seseorang terlihat, bukan saat dia diawasi, tetapi saat dia bebas bertindak.
Mang Mpiek pernah menulis bahwa di antara stimulus dan respons, ada ruang. Di ruang itulah manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Raket listrik itu adalah ruang saya. Lebah itu adalah stimulus. Tombol yang tidak ditekan adalah keputusan. Saya tidak sedang menyelamatkan dunia, tetapi saya memilih untuk tidak mengakhiri hidup hanya karena saya bisa.
Tidak Ada yang Melihat, Tidak Ada yang Melarang—Lalu Mengapa Saya Tidak Menekan Tombol Itu?
Kita hidup di zaman di mana efisiensi sering dijadikan pembenaran moral. Cepat, praktis, selesai. Namun logika ini berbahaya jika diterapkan tanpa berpikir. Ceu Hanhan juga pernah mengingatkan bahwa banyak keburukan lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari kebiasaan berhenti berpikir. Membunuh lebah itu mungkin legal, mungkin lazim, tetapi tetap merupakan pilihan yang layak dipertanyakan.
Dan ada juga om Albert mengatakan bahwa hidup adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kita. Termasuk pilihan yang tidak diambil. Dan termasuk tombol yang tidak ditekan. Keputusan kecil tidak pernah benar-benar kecil, karena ia membentuk pola. Hari ini lebah. Besok mungkin hal lain. (Naga Terbang Berkepala plontos ? siapa tahu ?) Jika kita terbiasa bertindak tanpa refleksi, kita juga terbiasa menghindari tanggung jawab moral.
Satu Sentuhan Tombol, Satu Nyawa: Mengapa Keputusan Kecil Tidak Pernah Sepele
Hari itu, tidak ada kemenangan besar. Tidak ada cerita heroik. Apalagi jempol yang bengkak. Hanya seekor lebah yang tetap hidup, dan sebuah kesadaran sederhana yang tertinggal: tidak semua hal yang bisa dilakukan harus dilakukan. Setiap keputusan—mudah atau sulit—tetap menjadi tanggung jawab pengambilnya. Dalam dunia yang serba instan, memilih untuk berpikir adalah tindakan yang semakin langka, dan justru karena itu, semakin penting.
Kita Terbiasa Menekan Tombol: Refleksi Tentang Kuasa Kecil yang Jarang Dipikirkan
credit : Mang Empiek, Ceu Han-Han, dan Om Albert sisanya: Lebah, Vespa Miniatur, dan Raket Listrik
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...