Home » » Dexie Cyprie Summy

Dexie Cyprie Summy

Posted by Mang Udung Gaya on 05 Juni 2007

Satu hari aku lewatkan perhatianku tidak tertuju pada Dexamethasone, Ciprofloxacin, dan Sumagesic –tubuh ini merasa tidak membutuhkannya, karena aku pikir sakit yang aku jalani kemarin bukan semata-mata karena kondisi badanku saja yang tidak fit. Termasuk kondisi cuaca di lingkunganku juga sepertinya sudah tidak pernah ramah lagi.
Masih ingat perkataan bapak dari ibu anakku, setelah sukses menunggu giliran diperiksa oleh dokter umum di balai pengobatan, “sakit apa …?” pertanyaan meski bernada datar, tapi aku tahu rasa ingin melindungi antara orang tua dan anak terkandung utuh di dalamnya. “Radang tenggorokan, “ jawabku terulas senyumku untuknya atas terima kasihku untuk perhatiannya. “ sudah parah sekali….” Tambahku tanpa bermaksud bangga akan penyakitku ini, ya.. aku sakit, dan kesakitan. Aku tidak bangga, aku hanya ingin bilang aku juga bisa sakit, sama seperti yang lain –bisa sakit dan kemudian mati. Bisa saja.

Pada resep Ciprofloxacin, tertulis harus habis, harus habis ? meski sudah sembuh ? harus habis ? ya.. ya.. ya.. pasti aku sikat habis si Ciprof dan kawan-kawannya. Semua obat ini ‘kan beli, bukan geratisan!
Aku bukan type orang yang doyan pergi ke rumah sakit, meskipun hanya untuk pergi numpang ke toilet. Sosok orang-orang berbaju putih bagiku sudah cukup membuat tengkukku berkeringat, banyak rentetan peristiwa yang terjadi dan berakhir di tempat yang namanya rumah sakit. Bukan maksud untuk melukai perasaan para dokter dan perawat, ya begini ini… kalau sudah takut dibawa ngeri, dan ngerinya awet dari masa kecil dulu, bawaannya parno melulu. Dokter dan perawat mempunyai tujuan yang sangat mulia, perkataan saya ini sangat tulus. Karena pekerjaan Dokter dan perawat adalah untuk menolong menyembuhkan orang sakit, maka khususnya dokter –tidak ada dokter yang miskin. Ini maksudnya untuk terus mendukung kinerja dokter jadi seorang dokter dikaruniai rejeki yang panjang. Mana ada stetoskop seharga dua puluh lima ribu perak, iya kan ?
Beberapa minggu lalu, anak perempuan saya demam panas. Dokter dari balai pengobatan memvonis, radang tenggorokan. Setelah pemeriksaan yang cukup singkat tapi tidak sepadan dengan penantiannya di ruang tunggu. Tiga hari kemudian, karena panasnya tidak mau turun-turun juga, malah yang bikin panik adalah termometer yang sering dipakai semenjak bayi langsung error ketika dipakai mengukur suhu tubuh anak perempuanku ini, yang baru mau masuk playgroup ini.
Aku bawa ke dokter umumnya, dan ternyata saudaranya dokter yang bertugas di balai pengobatan pertama tadi. Kalo tidak salah kakaknya. Hasil dari sana juga tidak begitu memuaskan, karena suasana sudah malam –demamnya juga terasa sedikit mereda. Akhirnya aku bawa pulang. Besoknya demamnya masih juga belum turun malah kembali ke posisi mengkhawatirkan, akhirnya dengan hati yang sudah bulat, lonjong, segi delapan atau gimana …?! Sudah dua dokter masih belum ada perkembangan berarti. Ibu dari anakku membawanya ke dokter spesialis anak, sebetulnya dokter ini sudah tidak asing lagi bagi keluarga, khususnya bagi anak perempuanku. Karena makin bagus dokter, makin bagus pula biayanya jadi terpaksa aku “meluruskan” sedikit anggaran kesehatanku demi keseimbangan ekosistem keuangan keluarga. Tapi yang terjadi malah aku khawatir dengan kesehatan anakku dalam satu minggu berat badannya turun satu kilo! Aku ngomel-ngomel kayak orang kesetanan mendengar keputusan dokter ini…
“dikarenakan sakit demamnya sudah terlalu lama didiamkan, maka saya mewajibkan anak anda menjalani medical check up kumplit.. plit.. plit.. plit.. yu!?” enak saja didiamkan ?? maksudnya apaan tuh !?
“Mulai dari check darah, urine, rontgen,… de-el-el, kenapa… ? pemeriksaan keseluruhannya dapat memastikan penyakit apa yang sedang di derita oleh sang anak, dan nantinya pemberian obat oleh dokter di dukung oleh data-data test yang akurat..”tambahnya.
Ya.. ya.. ya.. what ever lah…! Saya bersyukur setelah kunjungan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan awal berlanjut pada rujukan beberapa test, kemudian kunjungan ke dua “menonton” hasil test meski engga begitu mengerti istilah-istilahnya, dan kunjungan ke tiga ? sudah tentunya sembuh!
Kesimpulan sakitnya adalah, ketidak seimbangan atas organisme yang merugikan di bagian usus –karena tidak teraturnya jadwal makan, ditambah lagi makanan yang dikonsumsi kurang memenuhi syarat protein! Waaa..! kurang gizi !

Thanks for reading & sharing Mang Udung Gaya

Previous
« Prev Post

Recent Posts

Recent Posts Widget

Popular Posts