Ambisi Mega Proyek Arab Saudi Visi 2030 yang Terbentur Realitas Fiskal
Membangun peradaban masa depan di atas pasir gurun ternyata membutuhkan lebih dari sekadar rilis video promosi berkualitas tinggi berdurasi sinematik. Hampir satu dekade sejak Mohammed bin Salman meluncurkan cetak biru ambisius bertajuk Mega Proyek Arab Saudi Visi 2030, kerajaan kaya minyak ini mulai menyadari bahwa gravitasi ekonomi jauh lebih kuat ketimbang mimpi-mimpi futuristik. Tekanan fiskal yang kian mencekik akibat volatilitas pasar minyak memaksa Dana Investasi Publik (PIF) melakukan audit realitas secara mendalam. Akibatnya, narasi megah tentang kota-kota tanpa karbon kini berganti menjadi cerita tentang efisiensi anggaran, penundaan tenggat waktu, dan pemangkasan skala proyek yang cukup dramatis (argaamplus.s3.amazonaws.com).
Koreksi paling mencolok dari rangkaian proyek fantastis ini dapat dilihat pada NEOM, khususnya "The Line"—sebuah kota linier yang awalnya dipasarkan sepanjang 170 kilometer untuk menampung sembilan juta manusia modern. Namun, realitas di lapangan per akhir tahun lalu menunjukkan bahwa proyek mercusuar ini menyusut drastis menjadi hanya 2,4 kilometer dengan target populasi yang dipangkas hingga 95 persen (Global Construction Review). Mengubah gurun menjadi oasis fiksi ilmiah ternyata membutuhkan biaya yang membengkak hingga mencapai estimasi US$ 8,8 triliun, sebuah angka yang membuat para akuntan kerajaan harus mengurut dada. Ketidakpastian finansial ini bahkan memaksa penundaan tanpa batas waktu untuk ajang Asian Winter Games 2029 di Trojena, yang diikuti dengan pembatalan kontrak infrastruktur bernilai miliaran dolar secara sepihak (Radar Madura).
Setali tiga uang dengan NEOM, proyek Mukaab di Riyadh—sebuah struktur kubus raksasa yang diklaim mampu memuat dua puluh gedung Empire State—kini bernasib tak ubahnya monumen ekskavasi yang membeku. Investigasi dari Reuters mengonfirmasi bahwa aktivitas di lapangan telah ditangguhkan dan komitmen pendanaannya dievaluasi ulang setelah memicu polemik arsitektural yang dianggap menyerupai Ka'bah (Republika Online; Daily Ittehad). Memindahkan pusat gravitasi ekonomi dari sekadar menyedot minyak menjadi pusat hiburan global ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan saat kas negara mulai berhemat. Target penyelesaian mahakarya New Murabba ini pun terpaksa digeser mundur secara perlahan dari tahun 2030 menuju tahun 2040 demi menyelamatkan neraca keuangan dari kebangkrutan gaya baru.
Kendati demikian, tidak semua ambisi melambat; beberapa proyek yang telanjur mengikat janji dengan komunitas internasional terpaksa tetap dipacu demi menjaga gengsi global kerajaan. Proyek infrastruktur seperti King Salman Gate di Makkah dan situs EXPO 2030 Riyadh terus dikebut dengan suntikan dana darurat karena memiliki tenggat waktu mati yang tidak bisa dinegosiasikan ulang (The National; Gulf Construction). Proyek hiburan Qiddiya pun masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan pembukaan wahana Aquarabia demi membuktikan kepada dunia bahwa Saudi tidak sepenuhnya kehabisan napas (iNews.id). Ini adalah strategi manajemen prioritas yang pragmatis: mendanai apa yang wajib selesai untuk acara internasional, dan menyembunyikan sisanya di bawah karpet evaluasi.
Pengereman mendadak pada proyek-proyek raksasa ini membuktikan bahwa minyak, tidak peduli seberapa melimpahnya, memiliki batas dalam mendanai imajinasi tanpa batas. Kegemaran awal untuk membangun sesuatu yang "terbesar" dan "tercepat" di dunia kini harus tunduk pada disiplin fiskal yang diakui sendiri oleh para menteri kerajaan secara transparan. Visi 2030 tidak sepenuhnya mati, ia hanya sedang dipaksa turun dari langit utopia menuju realitas bumi yang keras dan penuh kalkulasi. Arab Saudi sedang belajar dengan cara yang mahal bahwa citra modernitas sejati tidak dibangun dari panjangnya tembok kaca di tengah gurun, melainkan dari ketahanan ekonomi yang logis.
Photo by Nojood Al Aqeel on Unsplash