JEBAKAN RASA BERSALAH DI RUANG KERJA, AGILITAS ATAU HALUSINASI

Disuruh lari kencang tapi matanya ditutup. Itulah ringkasan dari komedi tragis yang sedang kalian jalani sekarang. Manajemen—atau siapa pun yang memegang remote kontrol di sana—selalu punya fetish aneh terhadap kecepatan. "Gerak cepat!", "Agile!", "Eksekusi sekarang!". Masalahnya, arahnya tidak pernah ada. Kita dipaksa memacu adrenalin di atas labirin yang dindingnya pun belum selesai dibangun. SOP yang seharusnya jadi pagar pembatas malah cuma jadi pajangan yang sesekali kita tabrak karena, ya, mau gimana lagi? Kita cuma diminta lari, bukan diminta berpikir atau melihat peta yang memang sengaja disembunyikan.

Agilitas (agility) adalah kemampuan untuk bergerak, berpikir, dan beradaptasi secara cepat, tangkas, dan efektif terhadap perubahan situasi atau tantangan. 

Semakin mengejutkan, saat semua ini berakhir berantakan, dunia mendadak hening. Tidak ada teguran keras, tidak ada surat peringatan, bahkan tidak ada diskusi evaluasi yang bermutu. Heningnya itu justru lebih mematikan daripada teriakan bos paling galak sekalipun. Keheningan ini seolah-olah memberi ruang bagi isi kepala kita untuk membangun narasi sendiri: bahwa kita bodoh, kita tidak kompeten, dan kita tidak becus melakukan hal yang "katanya" sederhana. Mereka tidak perlu menghukum kita secara administratif, karena rasa bersalah yang tumbuh di dada sudah melakukan tugasnya dengan jauh lebih kejam.

Kalian merasa terbebani bukan karena tumpukan dokumen atau target yang melangit. Bukan. Rasa capek itu datang dari ketidakpastian yang dipelihara dengan sengaja. Bekerja tanpa kejelasan itu seperti mencoba merakit puzzle di ruang gelap; tangan terus bergerak, tapi hati tahu ini semua bakal sia-sia. Kita terjebak dalam rasa tanggung jawab yang salah alamat. Kita merasa gagal menjaga standar, padahal standarnya sendiri adalah hantu yang tidak pernah menampakkan diri.

Kemudian di ujung hari, lelahnya bukan di otot atau otak, tapi di perasaan yang terus-menerus digantung. Kita dijadikan martir untuk sistem yang disfungsional. Mereka ingin hasil yang presisi dari proses yang halusinasi. Dan saat kita mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri, di situlah kemenangan mereka yang sebenarnya. Kita jadi terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri sampai lupa bahwa yang rusak bukan mesin penggeraknya, melainkan kemudinya yang memang tidak pernah dipegang oleh siapa pun.

Dan saat kita mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri, di situlah kemenangan mereka yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

MENTAL BAJA BUKAN BERHENTI MENJADI MANUSIA

Google Hack Search Engine

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

OBSESI MEMBUAT ORANG PATAH HATI TERSENYUM

MENGAKUI DOSA PADA KETULUSAN, BUTUH KEBERANIAN SEBESAR APA ?

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit