NAFAS MENGGAPAI KOSONG

Sepeninggalmu, langit tak lagi mengecup senja,
Hanya gulita yang menjahit sunyi di tepi malam.
Ribuan detik berlalu, menyayat waktu dalam diam,
Mengenaskan rasa yang tak kunjung tuntas tertelan.
Aku berjalan di antara bayang dan ingatan,
Mengumpulkan serpihan rindu yang tak terjawab.
Seperti angin mengelus daun yang hampir luruh,
Tak ada tawa, hanya bisik duka merayu waktu.

Apakah kau mendengar lirih langkahku?
Pada setiap hembus nafas yang menggapai kosong,
Di antara gema sunyi yang mengguncang hati,
Aku menanti, meski tahu harapan adalah kehampaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

MENTAL BAJA BUKAN BERHENTI MENJADI MANUSIA

Google Hack Search Engine

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

OBSESI MEMBUAT ORANG PATAH HATI TERSENYUM

MENGAKUI DOSA PADA KETULUSAN, BUTUH KEBERANIAN SEBESAR APA ?

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit