Artikel Terbaru

Home » » Saya dan Sunda

Saya dan Sunda

Posted by Mang Udung Gaya on 14 November 2012

Coba perhatikan pada buku-buku sejarah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah UMUM, kenapa sejarah hanya menekankan sejarah budaya tanah jawa saja, Tidak ada bab bahasan mengenai kisah sejarah kerajaan di tanah pasundan. Tanpa mengangkat unsur SARA, hal ini semakin membuat saya bingung. Padahal kerajaan di Jawa Barat juga tidak kalah banyaknya dengan kisah sejarah kerajaan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Tanya kenapa ??

Salah satu Universitas Negeri di Bandung sedang menyusun proyek uniknya terkait dengan kebudayaan Seni Sunda. Yaitu mencatat dan mengumpulan seluruh tembang Sunda yang ada dalam sebuah perpustakaan digital. Kita doakan saja semoga usaha ini berhasil. Ada komunitas unik yang “doyan” jalan-jalan menuju tempat-tempat bersejarah di kota Bandung. Mengumpulan bukti-bukti dari cerita sejarah yang pernah ada dan terjadi di Kota Bandung dan sekitarnya.

Komunitas itu bernama Komunitas Aleut! (website : http://aleut.wordpress.com ) Komunitas gratis bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam wisata sejarah dan edukasi khususnya untuk lebih mengenal kota Bandung.

Sudah banyak radio berbasa Sunda, tetapi saat ini menurut saya radio online berbasa Sunda dan sering memperdengarkan lagu-lagu Sunda dan tembang Cianjuran adalah Radio Baraya Sunda ( http://www.radiobarayasunda.com/ ) Kalau rindu dengan tembang Cianjuran dan kebetulan anda berada jauh dari tatar Sunda, cukup dengan koneksi internet anda dapat mendengarkan Siaran Radio Tembang Sunda dan Cianjuran. Tembangnya diputar tidak terputus oleh penyiar, yang saya perhatikan para penyiarnya hanya update status saja di jejaring sosial. Jadi anda dapat menikmati Tembang Sunda Cianjuran tanpa putus. Selain itu Radio Baraya Sunda  terkadang menghadirkan acara Wayang Golek sebagai salah satu program andalan mereka.

Kecintaan pada budaya sendiri kadang salah tafsir, saya mencoba untuk membiasakan menggunakan “totopong” (iket kepala khas Sunda) pada beberapa kesempatan kegiatan sehari-hari (non formal tentunya) mendapatkan banyak respon yang beragam. Ada yang memuji, keheranan, mencibir, tertawa, dan lain-lain. Saya tidak merasa tersinggung, hanya tersenyum dan jujur saja masih ada rasa bangga. Saya bangga menjadi bagian dari “Urang” Sunda. Saya lahir di Kota Bandung, dan sejak kecil sudah merasa tertarik dengan tembang Cianjuran. Meski akhirnya saya sekarang bukan seorang seniman. Tetapi beberapa kenalan bekerja sebagai seniman dalam lingkungan Budaya Sunda.

Ada rasa khawatir ketika anak saya mengikuti ujian di sekolahnya. Untuk pelajaran seperti Bahasa Inggris, Matematika dan beberapa mata pelajaran lainnya sejujurnya saya tidak begitu khawatir akan nilai hasil ujiannya. Tetapi untuk ujian Basa Sunda saya sangat khawatir, sedikit menyesal tidak membiasakan menggunakan bahasa ibu untuk komunikasi setiap dari sedari kecil. Dan hasilnya sekarang kelihatan begitu kesulitan mempersiapkan menghadapi ujian Basa Sunda. Beberapa teman mengakui mengalami hal yang sama dengan anaknya. Basa Sunda dengan segala aturan penggunaannya dilihat begitu sulit untuk dipelajar, padahal sama seperti bahasa lainnya kalau sudah biasa maka tidak ada kesulitan yang amat sangat.

Mengenal cerita Kota Bandung pada jaman dahulu khususnya pada jaman penjajahan Belanda, saking lamanya penjajahan berlangsung membentuk dan menciptakan sejarah tersendiri bagi keadaan sosial budaya di Kota Bandung sendiri. Sisa-sisa masa itu kini dapat kita baca pada buku sejarah dan juga dapat kita “baca” pada apa yang tersisa berupa bangunan historis. Khususnya di pusat Kota Bandung di jalan Braga dan sekitarnya, menurut buku “Bandoeng Tempo Doeloe” terdapat banyak kisah dan cerita disamping derita akibat buruk dari masa panjajahan. Cerita pemilik hotel preanger, kisah pembangunan titik nol kilometer, kisah pembangunan jembatan yang menghubungkan area barat Kota Bandung dengan area timur Kota Bandung yang dipisahkan oleh sungai Cikapundung. Dan masih banyak kisah lainnya. Yang menurut saya sangat menarik untuk diketahui.

Mendengar cerita bapak saya mengenai kisah pembangunan Gedung Sate yang memerlukan batu-batu besar untuk membangun fondasi dari Gedung Sate. Dan didatangkan dari area Bandung utara menggunakan kereta gantung (lori). Katanya masih ada beberapa sisa bangunan tempat lori tersebut “bertengger” di daerah Sadang Serang  (dekat belakang SPBU Sadang Serang) saya sempat mencari-cari dan belum ketemu. Mungkin sudah dihancurkan dijadikan rumah tinggal yang sebelumnya terdapat komplek pemakaman umum di sana. Dan kisah lebar jalan Surapati yang tidak sama dari arah Gasibu menuju Perempatan Pahlawan. Kisah ini sepertinya terjadi di antara tahun 1960 s/d 1975. Coba saja perhatikan, dari arah gasibu menuju timur sampai jalan Gagak (anak jalan surapati dekat dinas pertanian) lebar jalan begitu luas. Baik dari kiri maupun kanan jalan. Ketika lepas dari batas jalan Gagak menuju arah Pasar Suci (Cihaurgeulis) jalan mendadak mengecil dari kiri dan kanan. Kisah ini sempat memanas saat itu ketika menyeret salah satu pejabat penting di Kota Bandung.

Tembang Cianjuran, tidak banyak yang suka tetapi tidak sedikit yang suka. Mungkin karena sudah “kepalang” belajar di sekolah seni atau memang di keluarganya adalah keluarga lingkungan seni. Ada pertanyaan yang sering saya coba tanyakan kepada seseorang yang saya anggap lebih “tahu” mengenai sejarah budaya Sunda termasuk tembang cianjuran, kenapa orang-orang beranggapan kalau mendengar tembang sunda Cianjuran “kok” bawaannya sedih? kalau jaman sekarang lebih terkenal dengan istilah “galau” hehehe.. Padahal belum tentu ! banyak kok tembang Cianjuran yang bertema selain urusan “sedih” sampai ada orang yang langsung “senewen ketika mendengarnya… katanya sedih! waas…! suka inget sama hutang !! loh ? ngaco pisan ! aneh…

Thanks for reading & sharing Mang Udung Gaya

Previous
« Prev Post

Recent Posts

Recent Posts Widget

Popular Posts