Artikel Terbaru

Home » » Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

Posted by Mang Udung Gaya on 20 Desember 2005

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe Buku karangan Haryono Kunto, terbitan PT. GRANESIA Cetakan ke-3 menggambarkan "wajah" Kota Bandung tempo dulu. Banyak cerita dan photo juga lukisan meski b/w di buku ini. Mulai dari wajah Gedung Sate, Alun-alun Bandung, Via Duck (Viade), Lembah Siliwangi (Babakan Siliwangi) sampai suasana jalan Braga.

"Aen een negrije genaemt Bandong betaende uijt 25 a 30 huysen." (Juliaen de Silca, 1641) Yang artinya menurut buku ini,"Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah". Sekarang Bandung sudah penuh sesak, pepohonan sebagian sudah "menghilang". Proyek pelebaran jalan di sana-sini untuk kemajuan dan kelancaran di Bandung, yang jelas semakin sumpek dan tidak beraturan saja di Bandung. Yang menjadi cerita pahit di ujung lidah adalah, ciri khas kota Bandung sekarang sudah sama sekali terhapus oleh arti kata "modernisasi"

Saya pernah dengar cerita dari beberapa "orang tua", nonton acara di tv, baca di buku/koran kalau dulu Bandung adalah sebuah danau. Danau purba, begitu istilahnya dari buku ini. Yang tersisa hanya Situ Aksan yang sekarang juga sudah "menghilang" disulap developer yang notabene bukan orang Bandung asli. Entahlah, benar atau tidaknya mungkin perlu dipertanyakan lebih lanjut.

Stasiun tv lokal bandung STV, selalu menayangkan Kang Aang jalan-jalan di Kota Bandung setiap hari jum'at jam 19.00 WIB dalam program acara "Bandung Teaa!", memperkenalkan sejarah/cerita/situasi Kota Bandung jaman sekarang dan tempo dulu sambil menenteng Buku yang sama saya baca ini, cuma yang dia punya cetakan baru dan ukurannya agak besar dari yang saya pegang ini.

Mhhh.... jadi pengen punya euy! Penerbitnya engga jauh-jauh amit sih. Di jalan Cihampelas no berapaaaa gitu, paling 100 meteran dari tempat saya duduk detik ini.

"Ik woon nu in het sombere Holland
maar mijn is in de Oost
waar de Kembang sepatoes bloeien
en de krontjong mij vertroost"


"Kini aku tinggal di Holland nan muram
namun hatiku terpaku di negeri Timur
di mana Kembang Sepatu bermekaran
dan bagiku lagi kroncong jadi penghibur"


P. Van den Munchof
"Dromen, Mijmeren, Weemoed", 1979.

Thanks for reading & sharing Mang Udung Gaya

Previous
« Prev Post

Recent Posts

Recent Posts Widget

Popular Posts