SELAMAT TINGGAL TANAH KAKEK BUYUT
Tanah itu bukan sekadar hamparan debu dan ilalang. Bagi kita, itu adalah DNA yang membeku di bawah lapisan aspal dan ego korporasi. Lima generasi kita hidup dalam romantisme kepemilikan, memeluk memori tentang kakek buyut yang menanam pohon nangka di sana, sementara di atas kertas legalitas, nama kita hanyalah hantu. Pihak swasta datang dengan senyum rapi dan sertifikat yang lebih mengilat dari masa depan kita. Menyedihkan, ya? Bagaimana selembar kertas yang dicetak kemarin sore bisa menghapus keringat ratusan tahun hanya karena orang tua kita dulu lebih percaya pada jabat tangan daripada stempel notaris.
Maka mulailah ritual sia-sia itu: mengais surat usang yang sudah dimakan rayap di lemari tua. Kita mencoba mengetuk pintu-pintu kekuasaan, berharap ada sedikit nurani di balik seragam-seragam kaku itu. Tapi kenyataannya? Kita justru disambut oleh simfoni birokrasi yang sengaja dibuat sumbang. Oknum pejabat melempar tanggung jawab seperti bola pingpong, aparat bicara tentang prosedur yang hanya berpihak pada pemilik modal, dan di gerbang depan, oknum preman sudah siap dengan tatapan tajam yang dibayar untuk memastikan kita tetap menjadi tamu di rumah sendiri. Mereka adalah segitiga bermuda yang siap menenggelamkan setiap butir harapan kita.
Kepasrahan ini rasanya seperti meminum racun yang dosisnya ditambah pelan-pelan setiap hari. Kita marah pada keadaan, tapi lebih sering merutuki ketidaktahuan para pendahulu yang menganggap kejujuran adalah mata uang yang sah di masa depan. Padahal, kejujuran tanpa administrasi itu hanya komoditas murah bagi para predator lahan. Sekarang, kita cuma bisa memandangi pagar beton tinggi itu dari balik trotoar. Tanah itu masih di sana, aroma tanahnya masih sama saat hujan turun, tapi ia sudah punya tuan baru yang bahkan tidak tahu di mana letak akar pohon nangka yang dulu kita banggakan. Kalah telak.
Seharusnya dari awal sudah menuruti kata kakek, untuk jangan pernah mengurus tanah warisan, sudah banyak contoh petaka yang memberikan peringatan mengerikan yang menyertai sejarah tanah tersebut.
Selamat tinggal tanah warisan, semua akan tersimpan rapih dalam kenangan yang diceritakan turun-temurun.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...